Friday, June 12, 2009

Kisah Cinta-Chapter 20

Sarita memandang keluar kereta dengan pandangan menerawang.

Walaupun Sarita memutuskan kepergiannya secara mendadak, waktu itu sudah lebih dari cukup bagi Zielle untuk mempersiapkan semuanya. Kepergian yang rencananya hanya terdiri dari Duke of Vinchard, Duke of Cookelt dan sang Lady Sarita Yvonne Elwood, sekarang menjadi sebuah rombongan kecil.

Sarita duduk di dalam kereta terdepan bersama kedua Duke. Di belakang mereka mengekor kereta berisi pelayan-pelayan yang menyertai kepergian mereka termasuk Zielle. Dan di urutan paling belakang, kereta barang mereka atau tepatnya barang-barang Sarita.

Sarita tidak mengerti mengapa ia harus membawa berkoper-koper pakaian dan perhiasan ke Trottanilla. Ia pergi ke Trottanilla bukan untuk bersenang-senang. Kepergiannya murni karena tugas sebagai wali Duke of Cookelt. Terima kasih pada Zielle, sekarang ia lebih terlihat seperti hendak pindah ke Helsnivia.

Entah apa kata orang. Kemarin ia menolak sang Pangeran dan pagi ini ia meninggalkan Helsnivia seperti ini.

Halbert mungkin marah. Halbert mungkin berpikir ia tengah melarikan diri. Namun Sarita tetap berpendapat ia telah membuat keputusan yang tepat. Ia tidak akan pernah menyesali keputusannya ini.

Andai Halbert bersungguh-sungguh. Andai itu adalah cinta sejati… Sarita mendesah.

“Kau baik-baik saja, Sarita?” Duke Vinchard bertanya cemas.

“Sarita pasti tidak ingin ke Trottanilla,” komentar Chris, “Bukankah Sarita datang ke Helsnivia karena ia melarikan diri dari Trottanilla.”

“Benarkah itu, Sarita?” Duke Vinchard prihatin, “Kau tidak perlu ke Trottanilla. Aku bisa mewakilimu.”

“Tidak, Kakek,” Sarita menolak, “Aku tahu aku bisa mempercayai Kakek. Namun aku tetap ingin ke Trottanilla. Aku ingin mengunjungi Papa dan Norbert.”

“Ithnan?” wajah Duke Vinchard langsung berubah.

Sarita sadar sampai kapanpun nama itu tetaplah merupakan topik yang paling sensitif bagi Duke Vinchard.

Di luar dugaan Sarita, Duke bertanya, “Apakah aku boleh menemanimu mengunjungi makam mereka, Sarita?”

“Tentu saja, Kakek. Mereka pasti akan senang dapat bertemu dengan Kakek,” dan Sarita menambahkan dengan suara lirih, “Terutama Papa.”

Duke of Vinchard tersenyum. Telah banyak yang ia lewatkan dalam bertahun-tahun ini dan telah banyak kesalahan yang ia lakukan. Ketika memutuskan menjemput Sarita pulang, Duke Vinchard juga memutuskan untuk menambal semua kekurangan itu.

Sarita kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Kepergiannya ke Trottanilla ini bukanlah suatu kesalahan. Ia membutuhkan waktu untuk mengusir Halbert dari pikirannya. Ia membutuhkan waktu untuk melupakan Halbert. Ia hanya bisa melakukannya ketika Halbert tidak ada di sisinya.

Mungkin… selama itu pula Halbert akan sadar semua perasaannya hanyalah khayalannya semata. Semua itu hanya perasaan sesaat seperti yang selalu ia rasakan pada wanita mana pun.

Karena itu Sarita tidak pernah membuang waktunya untuk bersenang-senang di Trottanilla.

Kedatangan Duke of Vinchard beserta sang cucu yang baru ditemukannya telah menyebar luas sebelum mereka tiba. Mereka juga telah tahu Duke Vinchard akan tinggal di Sternberg selama mereka berada di Trottanilla. Berkat berita burung itu, surat undangan sudah menumpuk di Sternberg sebelum mereka tiba.

Saat melihat surat-surat itulah Sarita mengerti mengapa Zielle bersikeras mempersiapkan gaun-gaun pesta untuknya dan berbagai macam perhiasan.

“Sekarang pandangan semua orang padamu sudah berubah,” komentar Duke Vinchard di suatu pagi.

Benar, pandangan mereka sudah berubah. Pertama, karena ia adalah cucu seorang Duke yang berpengaruh di Helsnivia. Kedua, karena ia adalah wali Duke of Cookelt yang masih muda. Hanya satu hal tidak berubah. Sikap para pria kepadanya sama sekali tidak berubah!

“Sayangnya,” ujar Zielle beberapa saat mereka tiba di Sternberg, “Duchess Belle tidak ada.”

Menurut para pelayan Sternberg, Duchess Belle sudah menghilang sejak berita kedatangan mereka tersebar.

“Ia pasti malu bertemu Anda,” komentar Zielle pula.

Tentu saja Sarita tidak mempercayainya. Ia tahu Duchess Belle terbelit hutang besar sedangkan almarhum suaminya memaklumatkan penerusnya tidak boleh memberikan sepeserpun harta keluarga Riddick padanya. Duchess tentu tidak akan membuang harga diri hanya untuk memohon pada putranya dan sang gadis yang dipercayainya sebagai anak haram almarhum Duke Norbert. Satu-satunya yang bisa melepaskannya dari belitan hutang ini adalah menghilang dari muka bumi.

Dorothy masih ada di Sternberg ketika mereka tiba. Walaupun Dorothy tidak mengakui, sikapnya kepada Sarita telah berubah. Walaupun tidak menyukainya, Dorothy tidak membentak ketika Sarita memanggil namanya. Walaupun wajah kesal tidak hilang dari wajah cantiknya, Dorothy tidak memprotes ketika Sarita memberikan sarannya.

Perubahan sikap yang paling menyolok adalah para pelayan Sternberg. Mereka yang dulu tidak menyukai Sarita sekarang menghormati Sarita bahkan menyanjungnya.

Sikap mereka membuat Sarita semakin sadar betapa pentingnya kedudukan, garis keturunan, dan kekayaan di mata banyak orang. Tentu saja hal itu tidak berarti bagi Zielle.

Seperti yang dilakukannya pada Chris, Zielle memberikan pelajaran tata krama pada Dorothy. Tidak satu kesalahanpun ditolerirnya. Ia juga tidak mengijinkan Dorothy bersenang-senang. Tanpa peduli protes Dorothy, ia mengatur jadwal harian sang Lady. Sikapnya yang tegas dan tanpa takut itu membuatnya menjadi sang pemimpin pelayan di Sternberg hanya dalam dua hari.

Sikap Zielle itu tentu saja tidak membuat Dorothy senang. Semakin ia memberontak, semakin keras sikap Zielle. Jika Dorothy berani menggunakan kekerasan, Zielle tidak ragu untuk melawan balik. Ketika Dorothy mengeluarkan umpatannya, Zielle tidak takut untuk menampar gadis itu.

Sayangnya bagi Dorothy, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Zielle adalah pelayan Duke of Vinchard dan Zielle bukan penduduk Trottanilla.

Dorothy tidak menyukai Zielle namun ia tidak akan meninggalkan Sternberg karena hanya inilah satu-satunya tempat ia bermalam. Selain berharga diri tinggi seperti Duchess Belle, Dorothy juga takut hidup susah.

Dari sekian banyak tanggapan atas kedatangan Sarita ini, hanya satu orang yang benar-benar gembira melihatnya.

Graham tidak henti-hentinya mengucapkan puji syukurnya. “Saya turut bergembira untuk Anda, Tuan Puteri. Duke Norbert dan Tuan Ithnan pasti turut berbahagia untuk Anda. Mereka menginginkan ini sejak lama.”

Sarita terkejut. Saat itulah ia baru tahu ternyata Graham juga telah mengetahui asal usulnya. Graham juga tahu mengapa Duke Norbert bersikeras memulangkannya ke Trottanilla.

Sarita merasakan kehangatan dalam hatinya. Ia tidak sebatang kara. Selalu ada orang yang memperhatikannya, mencintainya dan melindunginya.

Marcia adalah orang yang paling terkejut dengan kedatangannya.

Berita tentangnya belum terdengar di Hauppauge sehingga pemuda itu sempat mengira ia menikah dengan Chris yang saat itu menyertai kepergiannya dan Duke of Vinchard. Tahu ia adalah cucu seorang Duke, sikap pemuda itu langsung berubah. Dari tindak-tanduknya, Sarita sadar pemuda itu kikuk padanya. Marcia tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap kepadanya. Marcia yang telah menjadi kawan baiknya bahkan sempat melamarnya itu tidak tahu bagaimana ia harus memperlakukan seorang gadis miskin yang tiba-tiba menjadi cucu seorang Duke. Juga tidak sedikit penduduk Hauppauge yang menjadi kikuk padanya.

Demi sopan santun, Duke of Vinchard menyempatkan diri memenuhi undangan yang telah tiba di Sternberg sebelum kedatangan mereka. Duke Vinchard selalu membawa Sarita besertanya. Mereka tahu tujuan undangan itu bukan hanya untuk sang Duke Vinchard namun juga untuk melihat sang cucu yang pernah menjadi anak haram almarhum Duke Norbert.

Pria-pria berebutan untuk menjadi pasangan Sarita namun gadis itu tidak rela meninggalkan sisi Duke Vinchard. “Maaf, saya saya tidak dapat meninggalkan sisi kakek,” katanya setiap saat.

Sikap Sarita itu membuat Duke Vinchard berkeluh kesah, “Jangan terus menempel padaku. Pergilah bersama pria-pria itu. Pasti ada seseorang yang menarik perhatianmu.” Dan Sarita akan menjawab, “Aku hanya ingin berada di sisi Kakek. Apakah Kakek tidak suka?” Itu adalah sebuah jawaban yang tidak bisa ditolak Duke Vinchard.

Rencana awal mereka, setelah menyelesaikan segala yang perlu diurus, Chris akan ditinggalkan di Trottanilla. Namun rencana itu tidak hanya berubah melainkan juga diperpanjang demi beberapa urusan mendadak.

Pertama, atas saran Duke Vinchard, Sarita atas nama Duke Cookelt membereskan hutang-hutang Duchess Belle. Kedua, walaupun Sarita tidak menginginkannya, mengeluarkan peraturan yang harus dipatuhi Dorothy untuk dapat terus menerima kucuran dana. Ketiga, atas keinginan Chris, mengumumkan kepada setiap bawahan Duke Cookelt bahwa sang Duke akan tinggal di Helsnivia untuk waktu yang tak terbatas. Akibat keinginan Chris itu pula, Sarita harus mengatur tugas setiap orang di bawah pimpinan Duke of Cookelt. Selain itu, atas keinginan Sarita, mencari jejak Duchess Belle.

Pekerjaan terakhir inilah yang paling merepotkan dan juga memakan waktu. Walaupun Chris menentang keinginannya ini, Sarita tetap bersikeras menemukan Duchess Belle. Walaupun Duchess tidak pernah berbuat baik kepadanya, Sarita tetap tidak bisa berdiam diri memikirkan Duchess yang selalu hidup mewah itu mungkin sedang hidup sengsara. Selain Chris, Zielle juga tidak menyukai keputusannya ini. “Untuk apa Anda mengkhawatirkan wanita itu!? Dia sudah menghina Anda!” omelnya setiap saat. Namun Sarita tetap bersikeras pada keputusannya ini. Sejak kecil ia tidak pernah melihat ibunya. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ia tidak bisa membiarkan orang lain menyia-nyiakan ibunya. Walaupun Duchess Belle tidak pernah melakukan tugasnya sebaga sebagai seorang ibu, Duchess Belle tetaplah ibu Dorothy dan Chris.

Hanya Duke of Vinchard seorang yang mendukung keputusan Sarita. Bahkan Duke Vinchard bersedia menggunakan kekuasaannya untuk membantu Sarita dengan syarat Sarita atau siapa pun tidak boleh memaksa Duchess kembali ke Sternberg. Apabila Duchess bersedia kembali, maka ia harus menuruti peraturan main untuk tetap bisa tinggal di Sternberg, peraturan sama yang harus dituruti Dorothy.

Menurut Duke Vinchard, hanya ancaman yang bisa mencegah kedua wanita itu menghancurkan keluarga Riddick. Sebagai wali Duke Cookelt, Sarita tidak hanya bertugas membimbing sang Duke namun juga menjaga keutuhan dan kehormatan keluarga Riddick. Sependapat dengan kakeknya, Sarita menerima syarat itu.

Sebulan setelah pencarian dimulai, jejak Duchess Belle ditemukan di pinggiran Trottanilla.

Seperti dugaan Sarita, Duchess tetap bergaya hidup mewah walaupun ia tidak lagi mempunyai uang. Ia memanfaatkan kecantikannya serta gelar sebagai seorang Duchess untuk mendapatkan yang terbaik. Sikapnya ini membuat Sarita harus menyelesaikan persoalan baru yang ditimbulkannya selama pengembaraannya ini. Yang tidak Sarita duga adalah kesediaan Duchess untuk pulang dengan syarat memenuhi semua peraturan yang telah ditetapkan Sarita atas nasehat Duke Vinchard! Tanpa komentar maupun bantahan, Duchess Belle bersedia ditempatkan di peristirahatan keluarga Riddick yang jauh dari keramaian bahkan dapat dibilang cukup terpencil.

Sarita menduga sebulan tanpa kemewahan yang selalu dinikmatinya membuat Duchess pasrah. Mungkin bagi Duchess lebih baik hidup terkekang namun tetap dilayani puluhan pelayan daripada hidup bebas namun tanpa sedikit kemewahan pun.

Dengan ditemukannya Duchess, berakhir pulalah masa tinggal mereka di Sternberg.

Baik Duke Vinchard maupun pelayan-pelayan Quadville yang menyertai bersemangat menanti hari kepulangan mereka. Mereka tidak pernah meninggalkan Helsnivia untuk waktu selama ini dan mereka sudah sangat merindukan tanah air mereka serta sanak keluarga mereka.

“Akhirnya kita akan pulang,” ujar Zielle sambil melipat gaun-gaun Sarita. “Malam ini Anda harus segera tidur. Besok pagi-pagi kita akan meninggalkan Sternberg,” Zielle memberi peringatan keras kepada Sarita lalu setengah melamun ia berkata, “Rasanya sudah lama sekali saya meninggalkan Quadville. Saya tidak sabar ingin segera memeluk cucu-cucu saya.”

Sarita hanya mengangguk.

“Mengapa jawaban Anda hanya itu?” protes Zielle, “Apakah Anda tidak ingin pulang ke Helsnivia?” tanyanya menuntut jawaban, “Yang Mulia Duke tidak akan setuju meninggalkan Anda di sini.”

Sarita pun tidak tahu jawaban pertanyaan itu.

“Apalagi yang Anda khawatirkan? Semua masalah di sini sudah beres. Pembangunan gudang yang Anda rancang sudah selesai. Masalah keuangan Cookelt sudah Anda luruskan. Wania hina itu juga sudah ditemukan? Anda sudah tidak diperlukan lagi di sini.”

Benar. Sekarang ia bisa kembali ke Helsnivia. Hatinya terasa berat untuk kembali ke Helsnivia.

“KAU!” Zielle tiba-tiba berseru, “Jangan masukkan gaun itu kesana! Berapa kali harus kukatakan kalian harus memisah-misahkan gaun Tuan Puteri. Apa yang akan kalian lakukan kalau Tuan Puteri tiba-tiba harus berganti baju di perjalanan!? Apa kalian mau membuat Tuan Puteri menunggu kalian membongkar muatan!?”

Sarita memalingkan kepala dari para pelayan yang sibuk meringkas barang-barangnya di bawah pimpinan Zielle. Pikirannya kembali melayang jauh ke atas langit biru.

Pulang ke Helsnivia…. Itu artinya ia akan bertemu dengan bertemu Halbert lagi. Sebulan ini ia hampir tidak dapat melupakan Halbert. Beberapa hari lagi ia akan semakin kesulitan menyingkirkan pria itu dari kepalanya.

Sarita mendesah. Ia sudah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga ia tidak mempunyai waktu luang namun tetap saja kepalanya tidak dapat berhenti memikirkan Halbert. Dalam setiap pesta. Setiap menghadiri pesta, Sarita selalu berharap Halbert juga ada di sana sehingga ia tidak perlu bersusah payah menghindari pria yang ingin mendekatinya. Setiap ada pria yang mencoba mendekatinya, Sarita selalu teringat wajah cemburu Halbert.

Sebagian dirinya berseru merindukan Halbert. Sebagian dirinya yang lain tidak ingin kembali ke Helsnivia. Sarita tidak siap. Ia tidak siap kembali ke Helsnivia. Ia tidak siap melihat Halbert bersama wanita lain. Ia tidak sanggup mendengar berita tentang Halbert dan wanita lain.

Halbert adalah seorang pria yang tidak bisa hidup tanpa wanita. Tidak mungkin Halbert tidak menemukan wanita baru dalam waktu sepanjang ini. Halbert tidak mungkin masih mengatakan hal yang sama padanya.

Sebagian dari diri Sarita bergembira. Sebagian lagi bersedih.

Ketika ia kembali ke Helsnivia, wanita Halbert yang dibicarakan tiap penduduk Helsnivia bukan lagi dirinya. Namun betapa pun ia ingin kabur dari Helsnivia, hari itu akhirnya tiba juga.

“Selamat datang, Yang Mulia Duke, Tuan Puteri, dan Tuan Muda Chris,” sambut Brudce bersama pelayan-pelayan Quadville yang lain.

Sarita melihat orang-orang yang berbaris rapi sambil membungkukkan badan ke arah mereka. Ia merasa setiap orang melihatnya dengan simpati. Ia berani bersumpah mereka sedang bersimpati pada Tuan Puteri mereka yang kini bukan lagi wanita Halbert.

Begitu tiba di Quadville, Duke of Vinchard segera memanggil Gunter untuk mengetahui perkembangan yang terjadi selama ia tidak ada. Chris langsung memanfaatkan waktu untuk bermain-main di sekitar Quadville seperti kesukaannya selama berada di Helsnivia. Para pelayan langsung berbaur dengan pelayan yang lain untuk melepaskan rindu mereka. Dan Sarita…

Sarita bermuram diri. Ia tidak ingin menemui seorang pun. Ia tidak ingin sanggup mereka berbicara tentang Halbert dan wanita barunya. Ia tidak ingin mengikuti perkembangan Helsnivia Yang diinginkan Sarita saat ini hanyalah mengurung diri dan mempersiapkan batin untuk mendengar berita petualangan Halbert.

“Apakah kau baik-baik saja, Sarita?” Duke Vinchard bertanya khawatir saat mereka berkumpul di Ruang Makan, “Apakah kau sakit?” Duke merujuk pada makanan yang hampir tidak disentuh Sarita.

“Aku baik-baik saja, Kakek,” Sarita tersenyum, “Aku hanya lelah.”

“Kau sudah seperti ini sejak kita memutuskan pulang,” komentar Chris.

Sarita tidak menanggapi.

Duke berdiri dan berpaling pada Sarita, “Ikutlah aku.”

Sarita mengikuti Duke tanpa suara.

Duke Vinchard membawa Sarita ke sebuah ruangan di mana hanya ada mereka berdua dan jauh dari pendengaran Chris yang masih duduk di Ruang Makan.

Sarita hanya memperhatikan Duke ketika Duke menutup pintu dengan perlahan.

Duke duduk di depan Sarita dan memandang lembut cucu satu-satunya itu. “Sekarang kau bisa mengatakan semuanya padaku.”

Sarita hanya melihat Duke dengan tidak mengerti.

“Apakah aku tidak bisa kaupercayai?” Duke bertanya, lalu Duke mendesah. “Kasihannya aku. Cucuku tidak mau berbagi denganku.”

Sarita terperanjat. Tanpa disadarinya ia telah melukai orang yang dicintainya. “Tidak, Kakek. Aku percaya padamu. Aku senang berbagi denganmu.”

“Kau memikirkan Pangeran Halbert?” Duke bertanya langsung.

Sarita terperanjat. Lidahnya mengeras dalam mulutnya yang menutup rapat.

“Aku benar, bukan? Kau memikirkan Pangeran Halbert.”

“Ti… tidak,” Sarita menyangkal panik, “Aku tidak memikirkannya. Aku tidak pernah memikirkannya.”

“Kau tentu sangat mencintainya.”

Lagi-lagi Sarita terperanjat. Duke Vinchard telah menebak isi hatinya. “Maafkan aku, Kakek,” Sarita tidak berani menatap wajah kakeknya.

Duke Vinchard menglurkan tangan memegang dagu Sarita. “Aku tidak menyalahkanmu, Sarita,” Duke tersenyum lembut sambil menatap Sarita.

Sarita terperangah.

“Apakah kau tahu mengapa aku tidak suka Chris mendekatimu? Apakah kau tahu mengapa aku merestui hubunganmu dengan Pangeran?”

Keduanya adalah seorang pria yang selalu mempermainkan wanita. Satu-satunya yang membuat mereka berbeda adalah…

“Aku tidak pernah mempersoalkan masalah usia,” sambung Duke.

Maka satu-satunya jawaban adalah. “Karena Pangeran Halbert adalah seorang Pangeran dan Chris hanya seorang Duke.”

Lagi-lagi Duke Vinchard tersenyum sambil menatap lembut Sarita. “Tidak, Sarita. Sharon sudah memberiku pelajaran. Aku tidak mempedulikan lagi kedudukan seseorang.”

Sarita tertegun.

“Karena aku tahu Chris bukan pria yang pantas untukmu. Ia hanya tertarik padamu. Marcia mencintaimu dengan setulus hati namun aku juga tidak akan menyetujui hubungan kalian,” Duke membuat Sarita bertanya-tanya, “Mereka tidak dapat memberimu kebahagiaan.” Lalu ia menggenggam erat tangan Sarita. “Aku pernah menentang keras Sharon. Aku yang sekarang menentang keras cucuku membuat kesalahan bodoh. Ketika Sharon meninggalkanku, aku merasa begitu kesepian. Aku masih ingat perkataan terakhirnya sebelum meninggalkanku. Apakah kau tahu apa itu, Sarita?”

Sarita menggeleng.

“Katanya, uang tidak dapat membeli kebahagiaan.”

Sarita hanya membisu.

“Ketika melihatmu, aku menyadari kebenaran kata-katanya. Aku memiliki banyak uang, namun aku tidak pernah merasa bahagia. Kebahagiaanku yang sesungguhnya tiba setelah engkau berada di sisiku.”

“Pangeran Halbert mencintaimu. Aku dapat melihat ia tidak bermain-main.”

“Itu tidak mungkin. Pangeran pernah berkata ia tidak mungkin jatuh cinta padaku. Aku bukan gadis cantik yang menarik perhatiannya.”

“Kapankah ia mengatakan itu?”

“Ketika…,” Sarita terdiam. Ia tidak ingin mengungkit detik-detik terakhirnya bersama Duke Norbert.

“Dia mengatakannya karena ia belum mengenalmu,” hibur Duke, “Percayalah padaku, Sarita. Aku tidak pernah melihat Pangeran seperti ini. Aku tidak pernah melihat seorang pria yang begitu mencintai seorang wanita.”

“Tidak. Itu tidak mungkin,” Sarita menggeleng. Sedikit pun ia tidak dapat membiarkan harapan muncul dalam hatinya.

“Ini semua salahku,” Duke Vinchard bergumam sedih. “Andai aku menemukanmu lebih awal, kau tidak akan seperti ini.”

Sarita terkejut. “Tidak, Kakek. Kau tidak bersalah.”

Namun Duke Vinchard meneruskan. “Norbert adalah seorang playboy. Chris juga tidak lebih baik. Belle juga membuat keadaan lebih buruk. Halbert juga tidak pernah serius mencintai seorang wanita,” Duke membeberkan lingkungan Sarita tumbuh dewasa yang ia ketahui lalu membuat kesimpulan, “Karena itulah ketika Halbert serius, kau takut.”

Takut… Sarita merenung. Mungkin Duke Vinchard benar. Ia tidak mau harapan tumbuh dalam hatinya karena ia tahu itu hanya akan menyakitinya.

“Bagaimana kau tahu kau akan terluka kalau kau tidak mencoba?” Duke bertanya lebih lanjut, “Bagaimana kau tahu Halbert hanya bermain-main denganmu kalau kau tidak memberinya kesempatan?”

“Aku bukan wanita yang pantas untuknya,” Sarita memberitahukan kenyataan pahit itu, “Ia adalah seorang pria terhormat sedangkan aku hanyalah anak seorang petualang.”

“Lalu mengapa?” tanya Duke.

“Jelas itu tidak mungkin. Aku tidak pantas bersanding di sisi Halbert.”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Semua…,” Sarita terdiam. Tidak ada yang mengatakannya secara langsung.

Duke tersenyum lembut. “Tampaknya kau benar-benar kelelahan. Segeralah beristirahat, Sarita. Jangan berpikir terlalu banyak.” Duke Vinchard mencium pipi Sarita.

Sarita terperangah. Tangannya memegang pipi yang baru saja dicium Duke Vinchard.

“Selamat malam, Sarita.”

Sarita mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Ciuman kasih sayang Duke telah membiusnya.


-----0-----



“Sarita! Sarita!”

Sarita merasa mendengar seseorang memanggil namanya.

“Bangun Sarita, atau aku menciummu.”

“Aku masih ingin tidur, Papa,” gumam Sarita sambil membalikkan badan.

Sarita merasa tubuhnya terangkat. Detik selanjutnya sesuatu menyentuh bibirnya.

Mata Sarita membelalak lebar.

“Akhirnya kau bangun,” Halbert tersenyum gembira. “Bagaimana ciuman selamat pagiku?”

Tanpa sadar Sarita menyentuh bibir yang baru saja bersentuhan dengan bibir Halbert.

“Baiklah,” Halbert menyerah. Ia menyingkirkan tangan Sarita dari bibirnya. Halbert menunduk mencium Sarita lalu tersenyum, “Sekarang segeralah bersiap-siap. Aku akan menantimu di bawah.”

Sarita hanya menatap kepergian Halbert.

Baru saja Halbert menutup pintu ketika Zielle menerjang masuk. “Ya ampun, Tuan Puteri. Apa yang sedang Anda lamunkan. Segeralah bersiap-siap.” Zielle tanpa belas kasihan menarik Sarita dari tempat tidur.

Ketika pikiran Sarita kembali berjalan, ia sudah berdiri di hadapan Zielle yang dengan gembira mengantar kepergiannya.

“Kau lebih cepat dari dugaanku,” Halbert tersenyum menatap Sarita dari atas kudanya.

Tiba-tiba Sarita sadar. Saat ini matahari belum terbit. Saat ini adalah waktu Halbert biasa pergi berkuda pagi. Tentu Halbert telah memanfaatkan kekosongan pikirannya sesaat setelah bangun tidur. Namun Sarita tidak mengerti mengapa Zielle tidak membantunya mengenakan baju berkuda.

“Saya akan segera berganti baju,” Sarita membalikkan badan.

“Tidak perlu,” Halbert membungkuk. Dalam satu gerakan, ia sudah mengangkat Sarita ke depannya.

Sarita terperangah. Sebelum ia benar-benar menyadari apa yang telah terjadi, ia mendengar Zielle berkata gembira, “Selamat bersenang-senang, Tuan Puteri.” Dan mereka melaju meninggalkan Quadville.

“Ke mana kita akan pergi, Pangeran?” akhirnya Sarita mampu menguasai dirinya.

“Ke tempat rahasia kita,” Halbert menjawab singkat.

Tempat rahasia? Apakah mereka mempunyai tempat itu?

“Tidurlah. Aku akan membangunkanmu kalau kita sudah sampai.”

Tidur? Bagaimana mungkin ia bisa tidur dalam posisi seperti ini? Ia hanya duduk menyamping di depan Halbert. Satu-satunya hal yang dapat mencegahnya jatuh adalah sepasang tangan yang mengendalikan kuda itu.

Mata Sarita terpaku pada tangan yang mengendalikan kuda dengan mantap itu. Sebuah perasaan rindu merayapi hatinya. Pagi ini Halbert telah membangkitkan kembali kenangan masa kecilnya. Halbert membangunkannya dengan cara khas ayahnya ketika ia malas bangun. Walaupun mengucapkan kata-kata yang sama, ayahnya tidak mencium bibirnya seperti Halbert melainkan menggelitiknya. Itulah yang selalu dimaksud ayahnya dengan mencium. Lebih dari sepuluh tahun lamanya ia tidak dibangunkan dengan cara itu. Sepuluh tahun lebih lamanya ia tidak berada dalam posisi seperti ini. Sepuluh tahun telah lewat sejak saat terakhir ayahnya memberinya tumpangan.

Sarita bersandar pada orang yang memberinya tumpangan.

Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Ia rindu pada kehangatan di punggungnya dan angin semilir yang membelai wajahnya. Sarita memejamkan mata. Ia ingin seluruh inderanya terpusat pada indera sentuhan. Ia ingin merekam kenangan ini di dadanya.

Ketika Sarita membuka matanya kembali, ia berada di antara kaki Halbert yang terbuka. Tangan Halbert yang memeluknya, merapatkan jubah hangat yang menyelimutinya. Kakinya yang terbuka memanjang sepanjang rerumputan hijau. Kepala Halbert bersandar di atas kepalanya yang menunduk. Hembusan nafasnya meniup rambut Sarita.

Sarita memperhatikan langit yang sudah terang. Awan-awan putih menghiasi langit. Matahari yang sudah hampir mencapai tahta tertingginya menyinari bumi yang dingin.

“Kau sudah bangun?” Halbert menatap wajahnya.

Sarita memperhatikan senyuman Halbert.

“Zielle benar. Kau menjadi lamban sesaat setelah bangun tidur,” ia tersenyum geli.

Rupanya hembusan angin membuatnya tertidur. Kemarin malam ia tidak dapat tidur. Semalam ia terus memikirkan kata-kata kakeknya dan Halbert. Walau tidak ingin, ia tidak dapat berhenti memikirkan Halbert.

“Bagaimana? Apakah engkau merasa lebih segar?”

Sarita tidak melepaskan mata dari Halbert.

“Sekarang kau tampak lebih segar,” ia tersenyum gembira.

Ringkikan kuda mengagetkan Sarita.

Sekarang pikirannya sudah benar-benar bangun. Terakhir ia membuka mata, ia masih berada di atas kuda Halbert. Sekarang ia sudah berada di tempat yang tidak ia ketahui. Sarita melihat sekeliling. Ia merasa ia pernah datang ke tempat ini.

“Apa kau lapar?” Halbert bertanya, “Zielle sudah membawakan bekal untuk kita.”

Baru saat itulah Sarita melihat kantung yang menggantung di punggung kuda. Punggung kuda…

Mata Sarita membelalak lebar. “Pangeran, bagaimana Anda?” Sarita tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia melihat kuda yang berdiri tegap itu lalu pada Halbert yang masih memeluknya.

Halbert hanya melayangkan senyum misteri. Halbert lebih suka membiarkan Sarita bertanya-tanya. Ia tidak akan memberitahu Sarita bahwa kudanya juga terlatih untuk duduk dengan satu perintah.

“Pangeran!” Sarita menuntut jawaban.

Halbert tidak tahan lagi. Ia merengkuh Sarita ke dalam pelukannya dan memeluknya erat-erat.

“Aku merindukanmu, Sarita. Aku sangat merindukanmu,” bisiknya.

Sebulan ini ia benar-benar menderita. Ketika mendengar Sarita meninggalkan Helsnivia, ia panik. Ia pikir Sarita kabur karenanya. Kemudian ketika berita kepergian Duke of Vinchard menyebar, Halbert mulai merasa lega. Sarita masih akan kembali ke Helsnivia! Baru ketika berita kepergian Chris bersama mereka tiba di telinganya, ia menyadari tujuan kepergian mereka.

Sebulan ini ia benar-benar menderita. Tiada detik yang dilaluinya tanpa memikirkan Sarita. Tiada saat ia tidak merindukan gadis yang dicintainya ini.

Kemarin ia langsung melesat ke Quadville ketika kabar kepulangan mereka tiba di telinganya. Namun Duke of Vinchard melarangnya menemui Sarita. Waktu tidak tepat, alasannya. Mereka baru saja tiba dan Sarita membutuhkan istirahat. Kemudian Zielle memberinya ide ini. Hanya ketika Sarita baru bangun tidur gadis itu menjadi luar biasa penurut.

“Jangan tinggalkan aku lagi,” pinta Halbert, “Aku tidak sanggup hidup tanpamu. Aku benar-benar mencintaimu, Sarita. Aku tidak bercanda.”

Sarita terperangah. Halbert masih mengatakan kalimat terakhir yang didengarnya.

“Aku tidak pernah mencintai seorang wanita seperti ini, Sarita. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sangat mencintaimu.”

Air mata Sarita menetes. Sarita memeluk Halbert dan membenamkan wajahnya dalam-dalam di kehangatan dada pria itu. Ia tidak dapat lagi membohongi dirinya sendiri. Biarlah ia terluka. Biarlah Halbert membohonginya. Saat ini ia hanya ingin berada di sisi Halbert. Ia ingin berada di pelukan pemuda ini.

Halbert memegang pundak Sarita dan menjauhkan gadis itu dari dadanya. “Menikahlah denganku, Sarita,” ia menatap mata gadis itu dengan serius.

Sarita membuka mulut.

“Tidak,” Halbert mencegah. “Jangan memberi jawaban apapun. Jangan berkata apapun sebelum aku selesai.” Lalu Halbert berdiri.

Hawa dingin langsung menusuk tubuh Sarita. Matanya mengikuti Halbert menuju kuda yang menanti mereka.

Halbert mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung di punggung kuda dan kembali ke sisi Sarita. “Terimalah ini,” ia mengulurkan segulung kertas.

Sarita menerimanya dengan bingung. Melalui mata Halbert, ia tahu pemuda ini ingin ia membaca isi kertas itu. Sarita melihat gulungan kertas di tangannya lalu kembali pada Halbert.

Halbert duduk di depan Sarita.

Sarita membuka tali yang mengikat gulungan kertas itu dengan ragu-ragu.

Halbert menanti dengan sabar hingga Sarita membuka gulungan kertas itu.

“Ini…,” suara Sarita tercekat. Matanya kembali membasah.

“Sebulan ini aku mengikuti jejak masa lalu,” Halbert menjelaskan, “Aku menelusuri jejak ibu dan ayahmu. Aku menemukan surat nikah mereka di sebuah gereja terpencil tempat mereka menikah.”

Ketika Sarita menolak lamarannya, Halbert telah bersumpah untuk mendapatkan gadis itu. Sebulan terakhir ini ia tidak membuang waktu untuk menemukan segala macam senjata yang membuat Sarita tunduk. Kekeraskepalaan Duke Vinchard yang terkenal itu menurun pada Sarita. Untuk menundukkan kekeraskepalaan itu cara biasa tidak cukup. Halbert tidak kesulitan menemukan segala hal yang menyangkut Sharon Elwood dan Ithnan Lloyd. Kali ini ia tahu ia bisa bertanya pada banyak orang. Bahkan Duke of Vinchardpun memberinya saran.

Sarita memperhatikan Halbert melalui matanya yang berkaca-kaca.

“Aku juga telah menelusuri garis keturunan ayahmu. Ayahmu dan almarhum Duke Norbert bukan hanya teman tetapi juga sepupu. Kakek ayahmu adalah adik kakek buyut Chris.”

Garis keturunan Sharon Elwood tidak perlu diragukan namun Ithnan Lloyd? Dalam sebulan ini Halbert terus bertanya-tanya mengapa Duke of Sternberg bisa bersahabat dengan seorang pengelana miskin. Menurut Sarita, mereka telah bersahabat sejak kecil. Dari lingkungan tempat ia dibesarkan, Norbert Riddick tidak mempunyai kesempatan untuk berkenal dengan seorang gelandangan.

Sarita terperangah.

“Sekarang kau tidak ragu lagi, bukan?”

Sarita mengangguk. Bagaimana mungkin ia meragukan surat pernikahan asli orang tuanya? Bagaimana mungkin ia meragukan kerja keras sang Putra Mahkota?

“Sekarang kau tidak punya alasan untuk menolakku.”

Sarita tertegun.

“Jangan menolakku lagi, Sarita,” pinta Halbert, “Kau tahu bagaimana sakitnya penolakan. Jangan biarkan aku merasakannya,” Halbert sudah tidak kuat untuk tidak memeluk Sarita, “Aku benar-benar takut akan penolakanmu. Kau tidak punya ide bagaimana tiap hari aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan seseorang akan merebutmu. Setiap detik aku berharap berada di sisimu.”

“Anda melakukan ini untuk gosip-gosip itu?” tanya Sarita.

“Gadis bodoh,” Halbert menatap Sarita penuh cinta, “Aku melakukannya untukmu. Demi menundukkan kekeraskepalaanmu itu, aku rela melakukan apa saja.”

“Oh… Halbert…,” Sarita terharu, “Aku mencintaimu.”

“Akhirnya kau mengatakannya,” gumam Halbert.

Sarita mengangkat tangannya merangkul leher Halbert.

Halbert menunduk melumat bibir Sarita.

“Aku sudah tidak sabar mengikatmu selamanya di sisiku. Aku tidak mau menanti sampai kau berubah pikiran.”

Sarita tertawa. “Saya lebih takut Anda berpaling hati.”

“Aku sudah berlabuh, Sarita. Kurasa aku sudah berlabuh semenjak aku bertunangan denganmu di hadapan almarhum Duke of Cookelt.” Dan Halbert melumat bibir Sarita lagi. Ia bersumpah ia tidak akan melepaskan lagi gadis dalam pelukannya ini walaupun Sarita sendiri yang menginginkannya.

Sarita menyandarkan badan di dada Halbert. “Pangeran,” katanya, “Bisakah hari ini kita tetap seperti ini?”

“Tidak hanya hari ini. Esok, lusa, dan seterusnya kita akan bersama,” janji Halbert, “Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk meninggalkanku.”

“Saya tidak akan meninggalkan Anda,” Sarita berjanji pula.

“Aku sudah tidak sabar ingin segera membawamu pulang,” Halbert meraih tangan Sarita, “Aku tidak sabar ingin segera memasang cincin perkawinan kita di jarimu,” ia memainkan jari manis Sarita. “Duke telah menyetujui perkawinan kita. Aku dan dia telah memutuskan untuk segera melangsungkan pernikahan kita.”

Sarita terperanjat.

“Jangan mengatakan padaku kau tidak ingin menikah denganku,” Halbert memperingatkan.

Sarita tersenyum. “Bagaimana mungkin?” tanyanya, “Kalau saya terus ingin seperti ini,” ia kembali menempelkan tubuhnya di dada Halbert.

“Oh, Sarita,” Halbert memeluk Sarita, “Andai kau tahu betapa aku takut kehilanganmu.”

“Saya pun takut Anda akan berpaling pada wanita lain.”

“Aku rasa tak lama lagi aku akan mematahkan hati mereka. Tapi aku tak peduli. Aku hanya peduli pada dirimu seorang.”

Sarita tersenyum. Walaupun pernikahan mereka akan membuat banyak wanita menangis, ia tetap akan melangsungkannya karena ia tahu pernikahan ini juga akan membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Ratu Kathleen adalah orang yang paling bersuka cita atas pernikahan mereka. Senyum bahagia terus menghiasi wajah cantiknya hingga setelah mereka menikah. “Sharon juga pasti bergembira di alam sana,” bisiknya terharu ketika keduanya saling bertukar janji perkawinan.

Raja mengangguk – mengamini pernyataan itu. Ia tidak pernah membayangkan hari ini akan datang tapi hari ini akhirnya terwujud juga. Sang petualang cinta itu akhirnya melabuhkan diri pada pujaannya.


Continue reading...

Thursday, June 4, 2009

Kisah Cinta-Chapter 19

“Sudah cukup, Halbert!” Ratu tidak dapat mengendalikan emosinya. “Kapan engkau sadar kau adalah seorang Pangeran!?”

Halbert tidak menyalahkan ibunya. Kesalahan memang terletak padanya. Akhir-akhir ini ia tidak pernah berkencan namun ia juga tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia juga tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran khusus untuk mempersiapkannya menjadi seorang Raja.

“Kapan kau akan bangun dari mimpi-mimpimu itu!?” bentak Ratu. “Kau sudah bukan anak kecil lagi. Bagaimana kau akan memimpin kerajaan ini kalau kau tidak segera sadar!?”

“Aku tahu, Mama. Aku tahu!” Halbert juga tidak menginginkannya namun ia tidak bisa menghentikan kecemasannya.

Sejak pesta itu, undangan terus berdatangan di pintu Quadville. Sejak pesta itu, nama Sarita tidak pernah berhenti disebut. Semenjak pesta itu, ia selalu muncul di Quadville setiap ia mempunyai waktu luang. Semenjak pesta itu, ia selalu menyempatkan diri untuk menemui Sarita. Namun itu tidak cukup!

Setiap kali Sarita tidak berada di sisinya, kecemasan selalu menghantuinya. Setiap Sarita berada di luar jangkauannya, ia tidak dapat menghentikan kerinduannya pada Sarita.

Halbert tidak akan pernah merasa tenang sebelum Sarita menjadi miliknya. Halbert sadar penyebab kecemasannya ini adalah sikap gadis yang dicintainya itu. Ia telah melakukan segala cara untuk membuat gadis itu menerimanya namun gadis itu selalu membuat jarak dengannya ketika ia berpikir Sarita sudah menerimanya. Ia semua keahliannya tidak berguna. Semua daya pikatnya tidak dapat menarik perhatian Sarita.

“Kau memikirkan Sarita?” tanya Raja Marshall.

Halbert terperanjat. Bagaimana ayahnya bisa tahu?

“Kau benar-benar jatuh cinta pada Sarita,” Ratu Kathleen tersenyum.

Dan ibunya!? Halbert membelalak.

“Sarita memang mengagumkan,” Ratu Kathleen menambahkan. “Sejak awal aku sudah tahu Sarita pasti dapat menghentikan kebiasaan burukmu ini. Sejak melihat Sarita aku sudah tahu hanya putri Sharon yang bisa menangkap jiwa petualangmu itu.”

“Mama…,” Halbert kehilangan kata-katanya, “Mama sudah tahu semuanya dari awal?”

Ratu mengangguk bangga.

“Mengapa Mama tidak memberitahuku?”

“Aku sudah memberimu petunjuk,” ujar Ratu santai.

“Mengapa Mama membiarkanku pusing sampai gila!?” Halbert tidak dapat menerima penjelasan itu.

“Aku tidak mau kau melukai Sarita.”

Halbert membelalak.

“Sarita bukan mainanmu! Aku tidak mau kau bermain-main dengan Sarita. Ia adalah putri sahabatku. Aku tidak mau kau melukainya.”

Halbert tidak tahu harus bereaksi apa. Ibunya ternyata lebih memihak Sarita.

“Itu salahmu sendiri,” Ratu membaca ekspresi Halbert. “Kau tidak pernah serius berhubungan dengan wanita. Ini adalah petualangan, kau selalu berkata. Begitu melihatnya, aku tahu Sarita adalah putri Sharon. Aku harus melindunginya. Aku tidak bisa membiarkan seorang pun melukainya sekalipun itu adalah putraku sendiri!”

Tiba-tiba saja semuanya menjadi jelas. Ratu memerintah Savanah melayani Sarita bukan untuk mengawasinya tapi menjaganya. Ratu memaksanya menemui Duke of Vinchard karena ia ingin Halbert sadar siapa ibu Sarita. Ratu terus memperingatinya untuk menjauhi Sarita bukan karena ia tidak menyukai status Sarita namun karena Ratu tidak ingin ia melukai Sarita!

Halbert tertawa hambar. Ibunya ternyata sama sekali tidak mempercayainya!

Selama ini ia selalu mempermainkan wanita dan sekarang ia dipermainkan oleh ibunya sendiri. Halbert merasa sudah benar-benar gila.

“Begitu melihat Sarita, semua orang pasti tahu siapa ibunya,” kata Raja Marshall pula, “Sarita sangat mirip dengan Sharon. Ia lebih cantik. Lebih rapuh dari Sharon.”

“Benar,” Ratu sependapat. “Tak heran ia memang putri wanita tercantik di Helsnivia.”

“Sejak melihatnya aku sudah tahu ia akan berhenti menjadi bahan pembicaraan.”

Dan juga ayahnya!? Halbert membelalak lebar. Ia tidak percaya mereka melakukan ini padanya hingga membuatnya berpikir orang yang ia hormati tengah bermain mata dengan Sarita!

“Kau tidak perlu mencemaskan Sarita,” ujar Ratu, “Ia tidak akan mengalami bahaya apapun seperti yang ia alami di Trottanilla.”

“Bukan itu yang aku cemaskan!?”

“Lalu apa?” tanya Raja tidak mengerti.

“Aku takut Sarita jatuh cinta pada pria lain!” Halbert mengakui.

Ratu Kathleen tersenyum penuh arti. “Tidak ada yang perlu kaucemaskan. Sarita tidak akan jatuh cinta pada pria lain.”

“Bagaimana aku tidak cemas!?” tanya Halbert dengan nada tinggi, “Dua bulan lamanya ia tinggal bersamaku dan selama itu ia tidak pernah tertarik padaku. Sedikit pun tidak pernah! Sekarang setiap saat segerombolan pria mengantri di depan pintu kamarnya. Bagaimana aku tidak cemas?”

“Kau tidak bisa mencegahnya. Ia adalah gadis tercantik di Helsnivia bahkan mungkiin di dunia,” Ratu Kathleen menjawab dengan bangga seolah-olah Sarita adalah putri kandungnya, “Walaupun ia lahir di luar nikah, ia tetap keturunan keluarga terhormat. Bangsawan-bangsawan dari luar pun berdatangan untuk melamarnya. Kudengar beberapa Pangeran negeri lain juga berencana mengundangnya ke kerajaan mereka.”

Halbert juga menyadari ke manapun Sarita pergi, ia akan menjadi pusat perhatian.

“Itulah yang membuatku kian tidak bisa tenang!” ujar Halbert gusar, “Di antara mereka pasti ada yang menarik perhatian Sarita. Dalam hitungan hari pasti akan muncul pria yang mendapatkan hati Sarita.”

“Mengapa kau tidak ikut mengantri daripada bercemas ria di sini?” tanya Raja Marshall.

“MUSTAHIL!”

“Mengapa?” tanya Ratu Kathleen.

Halbert tidak dapat menjawab.

“Hanya dirimulah yang menghalangimu,” kata Raja Marshall.

“Omong kosong!” sergah Halbert tidak senang. “Mustahil adalah mustahil! Bagaimanapun kau memaksanya mustahil tetaplah mustahil.”

“Mengapa?” Ratu memaksa.

“Karena Sarita lebih suka menjauhiku daripada menemaniku!” Mengapa rahasia umum seperti ini pun mereka tidak tahu?

“Benar. Karena kau hanya tahu bermain wanita,” hina Ratu Marshall.

“Aku tidak sedang bermain-main!” Halbert marah, “Aku serius. Aku mencintainya!”

“Kalau kau mencintainya, lakukan sesuatu yang nyata!” sahut Ratu, “Kalau Sarita bukan mainanmu, perlakukan dia dengan serius!”

“Aku serius! Aku selalu serius terhadapnya!”

“Aku tidak melihatnya,” Raja menyela.

Halbert melihat ayahnya.

“Kulihat caramu memperlakukan Sarita sama dengan caramu memperlakukan wanita-wanitamu yang lain,” komentar Ratu.

“Sarita bukan wanita yang akan menjadi pasanganmu hari ini dan akan kau buang ketika kau bosan. Bukankah begitu, Halbert?” tanya Raja serius.

“Tentu saja. Aku mencintainya hingga aku hampir gila memikirkannya.”

“Apa yang kauinginkan dari Sarita?” tanya Ratu lembut.

Apa yang ia inginkan dari Sarita? Tentu saja ia ingin Sarita mencintainya. Ia ingin Sarita hanya memikirkan dirinya. Ia ingin Sarita selalu berada di sisinya. Ia ingin Sarita menjadi miliknya seutuhnya, jiwa dan raganya. Ia ingin Sarita tergila-gila padanya.

“Apa kau tahu apa yang diinginkan Sarita?” tanya Ratu pula.

Apa yang diinginkan Sarita? Jawaban pertanyaan itu sudah jelas. Tanpa berpikir pun Halbert dapat menjawab, Sarita ingin menjauhinya!

“Apa kau yakin?” Ratu membaca pikiran Halbert.

“Ia tidak mencintaiku, Mama. Ia pernah berkata aku bukan tipe pria yang akan dicintainya?”

“Mengapa?” tanya Ratu lebih lanjut.

“Karena aku adalah seorang playboy,” Halbert mengakui dengan muram, “Aku tidak pernah serius mencintai seorang wanita.”

“Apakah sekarang kau juga demikian?”

“Aku…” Halbert tidak tahu. Ia telah mempergunakan semua keahliannya tapi tidak ada yang berhasil. Ia telah memperlakukan Sarita dengan berbagai macam perlakuan yang ia ketahui namun itu juga tidak berguna. Halbert hanya tahu ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari semua yang ia miliki saat ini. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih dahsyat untuk mendapatkan cinta Sarita.

“Aku telah memanfaatkan semua yang aku ketahui,” Halbert mengakui.

“Sarita tidak pernah menganggapmu serius karena itulah,” Raja menegaskan, “Kalau kau memang mencintai Sarita, berhentilah memperlakukannya seperti wanita-wanita yang lain.”

Ratu menambahkan, “Kau memang pandai menghadapi wanita namun kau benar-benar tolol dalam memperlakukan cinta sejatimu.”

Mereka benar. Ia hanya tahu memperlakukan wanita namun ia tidak tahu bagaimana mencintai seorang wanita.

“Kau sudah berubah, Halbert,” Ratu Kathleen tersenyum penuh arti.

“Aku takut. Aku benar-benar takut, Mama,” Halbert mengakui, “Kau tidak punya ide bagaimana Sarita merubahku.”

Ratu Kathleen tersenyum. “Dengar, anakku. Tidak sulit menaklukkan Sarita.”

Halbert tidak punya ide apa yang dibicarakan ibunya.

“Sarita benar-benar mirip Sharon. Apa yang harus kaulakukan hanyalah menjadi dirimu sendiri. Kau sudah mempunyai sesuatu yang menarik Sarita.”

“Mama…”

“Ya, Halbert. Yang perlu kaulakukan hanyalah menjadi dirimu sendiri. Semakin kau berusaha, semakin kacau hasilnya. Jadilah dirimu sendiri dan semuanya akan berlangsung dengan sendirinya.”

“Mengapa Mama melakukan ini? Bukankah Mama tidak menyukai Sarita?”

“Aku?” tanya Ratu heran, “Bagaimana mungkin aku membenci putri sahabat baikku?”

“Mama membenci Sarita. Mama tidak pernah menyapa Sarita.”

“Aku hanya tidak suka kenyataan ia adalah putri pria yang telah merebut Sharon dariku. Tapi, karena Duke of Vinchard sudah mengakui Sarita, aku tidak punya alasan lagi untuk membenci Ithnan, bukan?”

Halbert benar-benar kehilangan kata-katanya.

“Ini bukan ide yang buruk untuk menjadi satu keluarga dengan Sarita. Tidakkah engkau berpendapat demikian, Marshall?” Ratu bertanya pada suaminya, “Ia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki.”

“Mengatakannya memang mudah,” komentar Halbert sinis.

Ratu tertawa. “Jangan khawatir. Aku percaya kau pasti berhasil. Aku yakin Sharon juga merestuimu.”

Andai saja hal itu dapat dipercayai, Halbert tidak akan gundah seperti ini. Sekarang Sarita sudah berada di luar jangkauannya. Setiap hari Duke of Vinchard memperkenalkannya pada setiap orang di Helsnivia.

Sudah bukan rahasia lagi Duke membanggakan cucu satu-satunya itu.

Semua ini membuat posisi Halbert semakin sulit. Ia tidak punya alasan untuk setiap saat berada di sisi Sarita sementara setiap saat mungkin muncul seorang pria yang akan merebut hati Sarita.

Sekarang Halbert benar-benar berharap ia bisa membalik waktu dan mencegah pertemuan Duke of Vinchard dengan Sarita. Namun itu akan terlalu kejam untuk Sarita, bukan?

Sekarang Halbert hanya dapat berharap reaksi Sarita pada ciumannya bukan palsu.

“Aku bersumpah aku tidak akan membiarkan diriku jatuh cinta untuk kedua kalinya. Ini semua sudah membuatku lebih dari tersiksa. Aku merasa setiap saat aku akan mati.”

“Kau terdengar tragis,” komentar Ratu.

“Aku benar-benar berharap dulu aku memenuhi keinginan Duke of Cookelt. Setidaknya sekarang aku yakin tidak akan ada yang berani mengusik Sarita.”

“Kalau kau demikian cemasnya, mengapa kau tidak langsung melamar Sarita?” tanya Raja, “Tidak ada larangan yang menyebut kau tidak boleh melamar Sarita.”

“Melamar Sarita?” Halbert mengulangi usul itu.

“Kau tidak pernah memikirkannya, bukan?” tebak Ratu.

Terbersit dalam benaknya pun tidak pernah.

“Kau pasti tidak pernah menyatakan cintamu pada Sarita,” Ratu menebak lagi.

“Apakah itu penting?” Halbert bertanya polos. “Aku sudah menunjukkannya dalam sikapku.”

“Halbert... Halbert...,” desah Ratu putus asa, “Sikap yang menurutmu membuktikan cintamu pada Sarita itu hanyalah omong kosong!” Suara Ratu kian meninggi, “Apa yang perlihatkan itu hanyalah keinginan untuk memiliki, keinginan untuk menguasai Sarita!”

Halbert termenung. Ia hanya ingin Sarita selalu berada di sisinya. Apakah itu salah? Ia hanya tidak ingin pria lain mendekati Sarita. Apakah itu tidak boleh?

“Mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya,” Raja memberitahu dengan sabar, “Ada kalanya cinta harus mengalah. Yang terutama adalah bagaimana kau membahagiakan cintamu.”

Membahagiakan Sarita? Halbert termenung. Selama ini ia hanya ingin memuaskan dirinya sendiri. Dari dulu hingga kini hal itu tidak berubah. Ia bermain-main dengan wanita hanya untuk kesenangannya sendiri. Ia menginginkan Sarita juga karena ia tidak ingin terus bergelut dengan perasaan yang menyiksa ini. Apakah itu yang dimaksudkan orang tuanya? Apakah ini yang membuat Sarita tidak pernah menganggapnya serius?

Ia hanya tahu Sarita tidak mencintainya tapi ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan gadis itu padanya. Ia tahu Sarita ingin menjauhinya tapi ia tidak tahu mengapa Sarita juga sering memberinya kesempatan.

“Kau tidak perlu aku memberikan pelajaran khusus, bukan?” Ratu memotong lamunan Halbert.

Halbert terperanjat. “T-tidak, Mama. Tidak perlu. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

“Lalu apalagi yang kau tunggu!?” bentak Ratu marah, “Cepat ke Quadville! Jangan pulang sebelum kau membawa pulang Sarita!”

Halbert serta merta melesat.

Raja Marshall tersenyum. Karena Kathleen mencintai keduanya, ia bersikap keras pada Halbert.


-----0-----



Sarita menutup koran.

“Anda baik-baik saja, Tuan Puteri?” tanya Zielle cemas, “Anda terlihat pucat.”

“Aku baik-baik saja,” jawab Sarita.

Zielle tidak akan pernah mengerti kegalauan hatinya ini.

“Lagi-lagi Anda dan Pangeran Halbert menjadi berita utama,” Zielle melihat halaman terdepan koran yang baru diletakkan Sarita di meja, “Anda berdua memang serasi.” Zielle mengambil koran itu dan membacanya dengan gembira.

Sarita ingin menyahut, “Sedikitpun tidak,” namun ia tetap menutup mulut. Zielle tidak akan senang mendengar bantahannya ini. Zielle tidak akan pernah memahami kegalauannya.

Ia mencintai Halbert. Sarita tidak meragukannya lagi. Semakin ia menyangkal, semakin besar perasaan itu. Namun ia bukanlah pasangan yang cocok untuk Halbert. Ia bukan keturunan keluarga bangsawan terhormat. Darah biru yang mengalir dalam tubuhnya hanya setengah. Bagaimana ia bisa menyetarakan dirinya dengan sang Pangeran yang terhormat?

“Saya dapat melihatnya,” Zielle menegaskan dengan mantap, “Pangeran sangat mencintai Anda. Pangeran selalu cemburu pada setiap pria yang mendekati Anda.”

Itu bukan cinta. Sarita menyangkal. Halbert tidak pernah mencintainya. Halbert hanya ingin menemukan petualangan baru darinya.

Zielle tertawa. “Anda telah membuat banyak wanita patah hati.”

Tidak! Besok mereka pasti tertawa puas. Ketertarikan Halbert padanya hanyalah sesaat. Bagaimanapun juga ia adalah petualang seperti ayahnya.

“Sarita juga akan membuat banyak pria patah hati bila ia tidak segera menjawab undangan-undangan ini,” Duke Ephraim muncul membawa sekotak penuh surat undangan yang ditujukan padanya.

Sarita sama sekali tidak memiliki keinginan untuk muncul lagi di muka umum.

Duke meletakkan kotak itu di depan Sarita.

Sarita hanya memandang tidak tertarik pada surat-surat di dalam kotak itu.

“Kalau kau tidak segera menjawab undangan mereka, besok aku akan menjadi berita utama,” gurau Duke, “Semua orang akan mengatakan aku melarangmu muncul.”

“Itu tidak akan terjadi,” sela Chris, “Semua orang tahu Halbert yang pencemburu itu tidak suka Sarita didekati pria manapun.”

Bukan itu alasannya tidak ingin muncul. Ia hanya tidak menyukai pria-pria yang selalu mendekatinya hanya untuk satu tujuan, dirinya! Andai ia mempunyai perisai yang dapat menangkal mereka, ia mungkin akan memikirkan ulang undangan mereka. Sayangnya, ia tidak punya. Ia juga tidak dapat terus menggunakan Halbert sebagai perisainya. Halbert tidak dapat dipastikan hadir dalam pesta-pesta tersebut. Halbert bukan kekasihnya, dan Halbert tidak mencintainya. Ia juga tidak mungkin membawa pria lain dalam undangan kencan mereka, bukan?

“Aku tidak membutuhkan mereka. Aku hanya menginginkan kakek seorang.” Sarita memandang kakeknya dengan sedih, “Apakah kakek tidak suka?”

Duke Vinchard tertawa. “Kau memang tahu bagaimana menyenangkan hatiku. Persis seperti Sharon.”

Tapi Chris lebih memahami Sarita. “Kalau kau mau, aku bisa menemanimu,” ia menawarkan diri.

“Daripada menemani Sarita, kau masih punya tempat yang harus kaudatangi,” sahut Duke Vinchard, “Jangan lupa besok kau akan pulang ke Cookelt bersamaku!”

“Kalian akan ke Cookelt?” Sarita terperanjat, “Kapan kalian memutuskannya? Mengapa kalian tidak memberitahuku?”

“Aku memutuskannya kemarin,” Duke Vinchard menjawab, “Chris tidak bisa terus menerus di sini. Sewaktu-waktu ia juga perlu pulang melihat keadaan Cookelt.”

“Aku ikut!” Sarita memutuskan.

Mereka terkejut.

“Aku perlu menemui Graham,” Sarita menjelaskan, “Graham mengabarkan padaku keadaan Duchess tidak baik. Ia terlilit hutang besar.”

“Itu salahnya sendiri,” komentar Chris. “Siapa suruh dia mengincar hartaku.”

“Harta keluarga Riddick masih belum menjadi milikmu sepenuhnya,” Duke Vinchard mengingatkan, “Kau masih harus menunggu beberapa tahun lagi.”

Chris mendengus kesal.

“Kapan kalian akan berangkat?” Sarita memotong pembicaraan mereka, “Aku akan membuat janji dengan Graham. Aku juga perlu mendatangi beberapa tempat.

“Yang Mulia, Anda berkata akan mendidik Tuan Muda Chris menjadi penerus Duke Norbert, tapi mengapa Tuan Puteri tetap mengurus Cookelt?” Zielle memprotes.

Pada awalnya Duke Vinchard mengawasi Chris melakukan pekerjaan Sarita namun sekarang tidak lagi. Sarita mempercayai kakeknya namun rasa tanggung jawab membuatnya tidak bisa menandatangani apa pun tanpa memahami duduk persoalan. Sekarang Sarita akan mempelajari persoalan-persoalan yang dikirim Graham lalu Duke Vinchard akan membimbing Chris membuat keputusan dan Sarita akan melakukan pekerjaan selanjutnya. Memang lebih rumit tapi Chris tahu apa yang tengah terjadi di wilayahnya sambil belajar mengambil langkah bijaksana.

“Aku adalah wali Chris, Zielle,” entah berapa kali Sarita menjelaskan hal ini, “Tidak ada hal tentang Cookelt yang tidak kuketahui sebelum Chris mengetahuinya. Walaupun kakek telah bersedia mendidik Chris, kakek tetap tidak mempunyai kekuasaan untuk membuat keputusan apapun.”

“Yang Mulia!” Zielle memprotes keras, “Tidak bisakah Anda melakukan sesuatu!? Apa Anda ingin Tuan Puteri menghabiskan waktunya di belakang meja terus menerus!?”

“Aku juga tidak dapat berbuat apa-apa, Zielle,” Duke Vinchard menyerah, “Kalau Chris bisa sadar, Sarita tidak perlu duduk di sini.”

“Tuan Muda Chris!” Zielle mengalihkan sasaran ketidakpuasannya. “Ini semua gara-gara Anda. Mengapa Anda terus bermain!?”

“Apa salahku?” gerutu Chris, “Yang memutuskan ini bukan aku tapi Papa.”

“Anda tidak punya waktu lagi untuk bermain!” Zielle menjewer telinga Chris. “Cepat, Yang Mulia Duke! Kita tidak punya waktu bercanda di sini!” Ia menarik Chris pergi.

“Lepaskan aku!” Chris memberontak, “Lepaskan tangan kotormu, Zielle!”

“Chris sudah ada kemajuan,” Sarita tersenyum.

Chris yang dulu pasti akan memaki Zielle dengan segala kata yang tidak dapat dibayangkan Sarita. Walaupun Chris tidak sepenuhnya menjadi seorang pemuda yang sopan, ia sudah mengalami banyak kemajuan. Zielle adalah orang yang paling berjasa dalam hal ini.

Wanita tua itu telah menjadi pelayan di sini semenjak muda. Walaupun telah berkeluarga dan mempunyai cucu, ia masih mencintai Quadville. Ketegasannya pada tata krama membuatnya tidak gentar pada Chris bahkan kepada Duke of Vinchard, majikannya. Bila Zielle melihat suatu kesalahan, maka ia tidak akan ragu melakukan hukumannya tanpa pandang bulu.

“Semua ini berkat Zielle.”

“Untung di sini masih ada Zielle,” Duke sependapat, “Aku selalu khawatir aku terlalu keras terhadap Chris namun Zielle lebih ketat terhadap Chris.”

“Aku lihat Chris menyukai cara kalian. Akhir-akhir ini aku selalu berpikir mungkinkah Chris mencari keluarga seperti kalian. Kalian memang keras dan ketat dalam mendidik Chris namun bagi Chris itu adalah bukti kalian memperhatikannya.”

“Anak itu kurang kasih sayang.”

“Benar,” Sarita mengakui, “Duke Norbert maupun Duchess Belle selalu menyibukkan diri dengan urusan mereka. Dorothy juga tidak tertarik menjadi pengasuh adiknya.”

“Zielle benar.” Duke menatap Sarita lekat-lekat, “Kau terlalu mempedulikan orang lain.”

“Apakah itu tidak boleh?”

“Aku tidak mengatakan itu salah. Aku hanya mengingatkanmu untuk mengambil batas.”

“Maksud kakek?”

“Yang Mulia!” Zielle menampakkan kepala di pintu dengan wajah tidak senang, “Apa yang Anda lakukan!? Kita tidak punya waktu untuk bersantai-santai!”

“Baik. Aku akan segera ke sana,” sahut Duke. Lalu ia berkata pada Sarita sambil tersenyum, “Aku harus pergi, Sarita. Kau tahu Zielle.”

Sarita hanya termenung melihat kepergian kakeknya. Sekarang tinggallah ia seorang diri menghadapi tumpukan pekerjaan yang belum diselesaikannya.

Sebelum ia menyentuh tumpukan itu, ia harus segera mengirim surat kepada Graham untuk mengabarkan kedatangannya. Ia tidak ingin menganggu waktu kerja Graham seperti yang pernah dilakukannya.

Tengah ia menulis surat, seseorang memasuki ruangan.

“Apa kalian memerlukan sesuatu?” Sarita menengadahkan kepala.

Halbert memasuki ruangan dengan aura wibawanya.

Sarita terperanjat. “Selamat siang, Pangeran. Apakah ada yang bisa saya bantu?” ia bertanya sopan.

“Satu hal yang pasti, kau tidak bisa menyisihkan waktu untukku,” Halbert melihat tumpukan kertas di depan Sarita. “Mengapa kau masih harus mengurusi Cookelt?” tanyanya kemudian, “Katamu Duke Vinchard akan membimbing Chris melakukan tugas-tugasnya.”

“Saya tetap wali Chris. Selain itu, saya tidak terbiasa menjadi pengangguran.”

“Aku sudah mengatakan kau bisa memanggilku kalau kau kesepian.”

“Saya tidak bisa. Anda adalah seorang Pangeran.”

Halbert berjalan ke sisi Sarita. “Sarita,” ia menggenggam tangan Sarita.

Sarita terpesona. Sepasang mata lembut yang tidak pernah dilihatnya itu, mengunci pandangannya hanya ke wajah tampan yang ia rindukan.

Cinta benar-benar menakjubkan. Semenjak orang tuanya memberinya ide untuk melamar Sarita, pikiran Halbert dipenuhi oleh hari-hari bersama Sarita. Beberapa saat lalu ketika melihat Sarita mengerjakan tugasnya sebagai wali Duke Cookelt, hatinya dipenuhi suatu perasaan hangat yang tidak dapat ia utarakan. Melihat gadis ini, Halbert dapat membayangkan hari-hari mendatang bersama Sarita di sisinya, bersama Sarita yang dengan bijaksana membantunya mengerjakan tugasnya sebagai seorang Raja, bersama Sarita yang dengan cinta kasihnya merawat anak-anak mereka.

Anak-anak, Halbert terkesiap. Bayangan Sarita menggendong putra-putri mereka membuat Halbert semakin terbang tinggi.

Sarita terperangah melihat senyum bahagia Halbert.

“Oh, Tuhan,” Halbert menarik Sarita ke dalam pelukannya. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini pada wanita manapun. Ia tidak pernah merasa begitu bahagia hanya karena memandang seorang wanita. Ia tidak pernah disesaki kebahagiaan seperti ini. Cinta memang menakjubkan.

Halbert membelai Sarita dan merapatkan Sarita ke pelukannya sehingga tidak ada celah di antara mereka.

Sarita hanya terpaku. Halbert tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Halbert sering memeluknya tapi baru kali ini Sarita merasakan kebutuhan Halbert. Bukan nafsu tetapi sesuatu yang lebih menggetarkan. Dari setiap sentuhan Halbert, Sarita dapat merasakan sesuatu yang membuat tubuhnya lebih bergetar dari saat Halbert menciumnya.

“Sarita,” bisik Halbert, “Menikahlah denganku, Sarita. Menikahlah denganku.”

Mata Sarita membelalak lebar.

“Menikahlah denganku,” Halbert menatap Sarita dengan serius.

Sekarang Sarita yakin ia tidak sedang berkhayal.

“Menikahlah denganku, Sarita,” Halbert mengulangi untuk keempat kalinya, “Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku membutuhkanmu. Aku tidak dapat hidup tanpamu.”

Tidak! Itu tidak mungkin! Halbert tidak mungkin melamarnya!

“Jangan bergurau, Pangeran.”

“Aku tidak bergurau, Sarita,” Halbert menegaskan. “Aku takut. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap wanita mana pun. Aku tidak pernah begitu takut kehilangan seorang wanita.”

Pada akhirnya semua ini hanya karena satu kata, petualangan.

“Aku mencintaimu.”

Sarita menggeleng sedih. Bahkan di saat-saat seperti inipun Halbert tahu bagaimana merayu wanita. Sarita sadar Halbert tidak akan pernah berhenti sebelum ia mendapatkan kepuasan itu. Sarita juga tahu ia tidak bisa terus membiarkan Pangeran seperti ini.

“Aku serius, Sarita. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini pada setiap wanita mana pun. Aku tidak pernah gila hanya karena memikirkan seorang wanita.”

“Cukup, Pangeran,” Sarita menjauhkan diri dan dengan tegas berkata, “Anda boleh bercanda apapun tetapi tidak dalam hal satu ini. Anda tidak mungkin mencintai saya.”

“Aku tidak sedang bergurau, Sarita,” Halbert menegaskan untuk sekian kalinya, “Aku bersungguh-sungguh. Setiap kata-kataku adalah kenyataan.”

“Tidak,” Sarita menggeleng, “Saya tahu Anda tidak bersungguh-sungguh.”

“Percayalah padaku,” desak Halbert.

“Saya percaya Anda sedang bercanda.”

Halbert merasa ia mulai kehilangan kesabarannya.

“Gurauan ini tidak menyenangkan, Pangeran,” Sarita memberitahu, “Saya tidak menyukainya.”

“Kau pikir aku bisa bercanda untuk hal seserius ini!?”

“Siapa tahu, Pangeran,” jawab Sarita tenang, “Besok atau lusa Anda akan bertemu wanita yang jauh lebih cantik dan menarik dari saya. Saat itu Anda pasti akan berpaling.”

Halbert geram hingga tidak bisa berkata apa-apa. Gadis ini adalah satu-satunya orang yang memahami petualangannya. Sialnya, ia terlalu mengerti tentang jiwa petualangannya!

“Anda sendiri pernah berkata saya bukanlah tipe wanita yang bisa membuat Anda ingin menikah.”

“Aku memang pernah mengatakannya tetapi itu adalah dulu,” Halbert membela diri.

“Anda juga tahu, Pangeran. Kita tidak boleh menikah.”

“Katakan alasanmu,” Halbert memerintah.

“Anda adalah keturunan keluarga terhormat sedangkan saya hanyalah putri seorang petualang,” dan sebelum Halbert menyahut, Sarita menambahkan, “Saya tidak pernah menerima pendidikan layak seperti Anda. Darah biru yang mengalir dalam tubuh saya juga hanya setengah. Rakyat Helsnivia tidak akan dapat menerima saya.”

“Omong kosong! Aku tahu tidak ada wanita yang lebih pantas dari kau.”

“Tidak, Pangeran,” Sarita menggeleng, “Ini semua hanyalah khayalan Anda. Percayalah besok Anda akan menyesali hari ini.”

“Apa kau serius?” Halbert tidak melepaskan mata dari Sarita.

Sarita mengangguk mantap.

Halbert marah. Sekalipun ia telah melakukan suatu tindakan yang serius, memohon seperti yang tidak pernah dilakukannya terhadap wanita manapun, gadis ini tetap tidak mempercayainya! “Apa kau lebih tertarik menikah dengan Marcia, pemuda kotor itu!?”

“Mengapa tidak?” Sarita menjawab jujur, “Ia jujur dan setia. Walau ia tidak kaya, ia mempunyai cinta yang tulus pada saya.”

Bertambahlah sudah dosa Halbert.

Selama ini ia terus bermain-main dengan cinta sehingga ketika ia benar-benar jatuh cinta, masa lalu tidak bisa lepas darinya. Kenyataan itu menyapu bersih amarah Halbert dan menambah gumpalan putus asa dalam dirinya.

“Kau memang keras kepala, bukan?”

Sarita tidak menanggapi.

“Tidak ada yang bisa merubah keputusanmu, bukan!?”

“Percayalah Anda akan menyesali keputusan Anda ini.”

“Baik!” tegas Halbert, “Lakukan apa yang kausuka!”

Sarita memperhatikan pintu yang dibanting Halbert keras-keras. Ia yakin ia sudah membuat keputusan yang benar untuk itu ia tidak akan mengeluarkan air mata. Namun wajahnya telah basah sebelum ia mampu menegaskan hal itu pada dirinya sendiri.

Andaikan Halbert tahu betapa ia mengharapkan kesungguhan kata seorang petualang cinta.


Continue reading...

Wednesday, June 3, 2009

Kisah Cinta-Chapter 18

Sarita memperhatikan keramaian di halaman Kastil Quadville dengan putus asa. Meja-meja tertata rapi di sepanjang ruang kosong. Para wanita dan pria bergerombol di antara meja-meja. Mereka bercanda riang sambil membawa gelas berisi anggur. Para pelayan berjalan mondar-mandir melayani para tamu yang diundang khusus untuk hari special ini.

Haruskah ia melakukan ini? Tidak bisakah ia menghindarinya? Tidak bisakah ia muncul secara normal?

Mata Sarita beralih pada Duke of Vinchard yang dengan bangga memberikan sambutan.

Sarita sadar ia tidak bisa mengubah apapun. Sejak awal ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk membatalkan pesta ini.

Pesta ini memang baru berlangsung hari ini namun kesibukan Quadville sudah dimulai semenjak Duke membuat keputusan.

“Akhirnya saat ini tiba,” Zielle dengan gembira mengumumkan.

Sarita melihat wanita tua itu. Ialah orang yang paling bersemangat memilihkan gaun pesta untuknya. Ia pula yang paling antusias menanti saat ini.

Sarita kembali mengarahkan perhatiannya pada halaman Kastil Quadville. Sekali lagi ia bertanya, haruskah ia muncul di bawah mata semua orang itu?

“Inilah dia cucu tercintaku, Lady Sarita Yvonne Lloyd.”

Seketika semua mata melihat ke serambi yang semester lebih tinggi dari halaman Quadville.

Sarita pun tahu ia tidak bisa.

“Cepatlah, Tuan Puteri. Duke telah memanggil Anda,” Zielle membimbingnya keluar dari balik tirai yang membatasi serambi menuju halaman dengan ruangan tempat ia harus bersembunyi hingga Duke Vinchard memanggilnya.

Sarita melangkahkan kaki ke serambi. Matanya menatap para tamu dan kakinya melangkah mantap ke arah Duke yang menatapnya dengan bangga.

Sarita bertanya-tanya apa yang ia cari dari para tamu kakeknya ini. Matanya memandang mereka tetapi ia tidak melihat mereka. Apakah ia ingin membaca bibir yang tengah berbisik-bisik itu? Apakah ia ingin mencari siapa yang paling tertarik melihatnya?

Setiap pasang mata memperhatikannya lekat-lekat seolah-olah ingin menanti ia membuat kesalahan yang memalukan.

Sayangnya Sarita akan mengecewakan para tamunya. Selama seminggu penuh Zielle melatihnya berjalan anggun menuruni tangga serambi. Selama seminggu Zielle memastikan ia berjalan tanpa cacat. Sarita telah menghafal setiap langkahnya sehingga Sarita yakin walaupun dengan menutup matapun ia bisa dengan selamat sampai di sisi Duke Vinchard.

Mulut para wanita berbisik-bisik seolah-olah ingin mencari kecacatan dalam penampilannya hari ini.

Sayangnya pula, Sarita akan mengecewakan mereka. Zielle telah memastikan ia menjadi bintang hari ini. Dalam seminggu penuh ini Zielle telah mencoba berbagai macam dandanan dan gaun. Sekarang ia sudah dari telapak kaki hingga ujung rambut tampil sempurna seperti dalam kamus Zielle. Rambutnya yang pucat telah ditata sedemikian rupa sehingga warnanya yang pucat menonjolkan perhiasan yang menghiasi kepalanya. Kulitnya yang pucat disembunyikan oleh gaun biru terang yang senada dengan matanya. Setiap lipatan gaun yang dipilih Zielle selama seminggu ini menonjolkan setiap lekukan tubuhnya.

Inilah sebabnya ia tidak pernah ingin datang ke sebuah pesta apa pun. Sarita tidak suka cara mereka menatapnya. Ia tidak suka mendengar bisik-bisik mereka. Ia tidak pernah menikmati menjadi tokoh utama topik pembicaraan! Ia tidak peduli mereka menyebutkan anak haram. Ia tidak terlalu memikirkan komentar mereka. Ia hanya membenci mereka yang suka menjelek-jelekkan Duke Norbert dan ayahnya.

Entah mengapa ia tidak bisa lepas dari mereka. Tak peduli ke manapun ia melangkah, omongan itu selalu mengekor. Tak peduli apapun statusnya, mata-mata itu terus memandangnya.Tidak ada pengecualian! Tua muda, pria wanita semua suka membuatnya menjadi tokoh utama seperti yang telah mereka lakukan selama seminggu terakhir ini.

Koran-koran telah mengupas habis sejarah hidupnya. Bagaimana ia bisa hadir di dunia ini, budaya-budaya yang pernah ia lihat, bahasa-bahasa yang ia kuasai, tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Tidak satupun yang mereka lewatkan.

Sering ketika membaca koran-koran itu, Sarita berpikir mengapa Duke Vinchard tidak menutup mulut mereka seperti ia melenyapkan ibunya dari muka bumi. Sebaliknya, Sarita menyadari, semakin mereka menguliti masa lalunya, semakin tinggi kebanggaan Duke. Sekarang Sarita berdoa setelah hari ini ia dapat melalui hari ini dengan tenang, jauh dari para pria yang mengincarnya.

Sarita terkejut menyadari apa yang tengah ia cari. Pada saat yang bersamaan matanya menemukan apa yang dicarinya: Pangeran Halbert!

Apa gunanya ia mencari pemuda itu? Apa gunanya ia menemukan pemuda itu? Apa ia ingin Halbert kembali melindunginya dari para pria yang tidak ia sukai?

Halbert tersenyum bahagia. Matanya bersinar-sinar pada para wanita yang berebut menjadi pasangan dansanya. Sarita segera mengalihkan pandangan mata pada Duke. Dibandingkan menemaninya, Halbert tentunya lebih tertarik menemukan teman kencan.

“Kau sangat cantik,” Duke Vinchard mengulurkan tangan menyambut Sarita, “Aku bangga padamu.”

Sarita tersenyum. Ia meletakkan tangan di siku Duke dan membiarkan Duke mengenalkannya kepada sahabat-sahabatnya.

“Ia benar-benar mirip Sharon,” kata seorang di antara mereka.

“Ia benar-benar seorang gadis muda yang mengagumkan,” kata yang lain.

“Kudengar kau pernah mengunjungi negara di sisi lain daratan ini. Apakah engkau pernah ke negara timur tengah?”

“Umurmu masih kecil namun kau sudah mengunjungi banyak negara. Benar-benar mengagumkan.”

“Kau tentu menguasai banyak bahasa.”

“Kudengar engkau menjadi wali Duke of Cookelt. Luar biasa!”

Sarita hanya tersenyum mendengar komentar mereka yang tiada hentinya itu. Komentar-komentar mereka bukanlah hal baru baginya. Mereka hanya mengulang isi koran.

Sarita ingin meninggalkan mereka. Namun sebagai tuan rumah, ia hanya dapat berdoa mereka segera melepaskannya.

Setelah kerumunan sahabat-sahabatnya, Duke Vinchard membawa Sarita kepada para bangsawan Helsnivia.

Walaupun ingin segera kabur, Sarita tetap bertahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkannya selama Duke of Vinchard ada di sisinya.

“Nah, Sarita, sekarang temuilah para pemuda yang menarik perhatianmu.”

Sarita terperanjat ketika Duke melepaskannya.

“Sarita, aku akan menjadi pasanganmu. Aku akan menjadi pasanganmu,” Chris dengan penuh semangat mengajukan diri.

“Kau tidak akan ke mana-mana, Anak Muda,” Duke Vinchard menarik tangan Chris, “Kau akan ikut aku.”

“Lepaskan aku, tua bangka! Aku punya urusan penting.”

Tanpa mendengarkan protes Chris, Duke menarik Chris.

Akhir-akhir ini Sarita sudah terbiasa melihat pemandangan ini. Pengawasan Duke yang ketat inilah yang membuat Sarita merasa aman sekalipun mereka berada di bawah satu atap.

Begitu Sarita membalikkan badan, segerombolan pria sudah berada semeter di depannya.

“Lady Sarita, senang berkenalan dengan Anda.”

“Kenalkan saya adalah…”

“Apakah Anda bersedia bersedia menjadi pasangan dansa saya?”

“Bersediakah Anda berdansa bersama saya?”

Mereka berebutan memperkenalkan diri dan menjadi pasangan dansanya.

Sarita berharap ia dapat memahami perasaan Halbert dikerumuni wanita cantik. Sayangnya, ia bukan Halbert. Ia tidak menikmati kerumunan ini. Tanpa disadarinya, matanya melirik Halbert yang masih bercanda dengan wanita-wanita cantik di sisinya.

Sarita terkejut menyadari ia masih mengharapkan perlindungan Halbert. Bodoh! Ia benar-benar bodoh! Tidakkah ia melihat Halbert tampak begitu gembira berada di antara wanita-wanita yang memujanya?

Seorang pria melintas kerumunan itu.

Sarita tersenyum gembira. Saat ini hanya sepupunya inilah yang bisa menjauhkan pria-pria ini. “Maaf, saya sudah punya janji,” Sarita menerobos kerumunan itu.

“Gunter!” panggil Sarita.

Gunter terkejut melihat Sarita mendekatinya. “Mengapa kau ada di sini?” Gunter semakin terkejut ketika Sarita meraih tangannya dan menariknya menjauhi keramaian.

Akhirnya Gunter sadar mengapa Sarita mencarinya. Ia sudah mendengar desas-desus tentang Sarita. Ia sudah mengetahui ketidaksukaan gadis ini menjadi pusat perhatian. Sayangnya, ke mana pun Sarita berada, ia akan selalu menjadi pusat perhatian.

“Duke tidak akan suka melihatku bersamamu.”

“Saat ini Kakek lebih tertarik memperkenalkan teman-temannya pada Chris,” Sarita terus membawa Gunter menjauh.

Gunter memalingkan kepala mencari Duke of Vinchard. Seperti yang dikatakan Sarita, Duke tengah memperkenalkan sang Duke baru Cookelt kepada bangsawan-bangsawan penting Helsnivia. “Sepertinya ia sudah menganggap Chris sebagai putranya.”

“Ya,” Sarita membenarkan. “Kakek sangat menyayangi Chris. Aku bahagia Chris dapat menemukan seseorang yang ia puja.”

Gunter memperhatikan wajah tegang Sarita. “Ke mana kau akan membawaku?”

“Entahlah. Aku hanya ingin menjauhi tempat ini.”

“Besok kau akan menjadi berita utama Helsnivia,” Gunter bergurau, “Lady Sarita Yvonne Lloyd, sang tuan rumah Quadville, meninggalkan tamu-tamunya.”

“Aku tidak terlalu memusingkannya,” Sarita mengaku.

Tentu saja Gunter tahu. Sarita tidak pernah memusingkan gosip-gosip tentangnya. Sarita hanya tidak menyukai cara semua pria memperlakukannya.

Gunter tidak menyalahkan Sarita. Sejak umur enam tahun Sarita telah dicap sebagai anak haram Duke of Cookelt. Sejak masih anak-anak, gadis cantik ini telah dipandang sebagai wanita rendahan seperti ibunya. Bertahun-tahun para pria memperlakukannya sebagai wanita murahan yang bersedia melakukan apa saja demi uang dan kedudukan.

“Sarita,” Gunter berhenti dan menatap lembut pada gadis muda itu, “Tidak semua pria seburuk yang kau pikirkan.”

“Aku mengerti hal itu, namun…,” Sarita mendesah, “Tidak mudah membuat hatiku menerimanya.” Matanya menatap langit biru. “Sering aku berpikir mengapa hati dan otak manusia tidak bisa berjalan beriringan.”

“Kau hanya membuat semuanya menjadi rumit.”

“Mungkin…,” Sarita mengakui. “Tampaknya tidak mudah mencari seorang pria seperti Papa.”

Gunter menyadari para pria di sekitar Sarita memperkuat pandangan gadis ini. Almarhum Duke Norbert bukanlah seorang pria setia. Chris, yang masih muda itu suka bermain wanita. Dan Halbert, sang Pangeran yang telah memberinya perlindungan adalah seorang playboy kelas atas. Hanya Ithnan Elwood satu-satunya pria setia yang Sarita kenal. Hanya Ithnan Elwood yang tetap mencintai satu wanita sampai akhir hayatnya.

Gunter melihat puluhan pasang mata yang cemburu menatap tajam padanya.

“Ini bukan ide yang baik.”

Sarita melihat Gunter dengan bingung.

“Aku khawatir aku tidak dapat menjaga nyawaku yang berharga ini bila aku terus bersamamu.” Gunter memutar badan Sarita.

“Apa maksudmu?” Sarita menoleh pada pria itu.

“Pangeranmu sudah datang menjemput,” Gunter mendorong Sarita.

Sarita yang tidak siap langsung terhuyung.

“Sarita!” Halbert menangkap Sarita.

Sarita terperanjat. Dadanya berdebar keras. Ia masih kaget oleh tindakan tiba-tiba Gunter. Sedetik lalu ia merasa tubuhnya seperti ditarik bumi.

Halbert memelototi Gunter dengan tidak senang.

“Jaga dia baik-baik, Yang Mulia,” Gunter tersenyum penuh arti. “Jangan biarkan pria lain mendekatinya.”

Halbert tidak menyukai pria ini. Ia tidak menyukainya ketika mereka bertemu di pesta Viscount Padilla. Sekarang pun ia tidak menyukainya. Hanya karena ia adalah penerus Duke Vinchard, ia pikir ia bisa menguasai Sarita. Hanya karena Sarita memilihnya, ia pikir Sarita adalah miliknya.

Halbert tidak suka melihat Gunter mendekati Sarita! Ia tidak suka pria-pria yang mendekati Sarita! Ia sudah serasa terbakar emosi melihat gerombolan pria yang mendekati Sarita. Ia benar-benar kehilangan kendali ketika Gunter membawa Sarita ke tempat sepi.

Sejak Duke mengumumkan pesta ini, ia sudah memutuskan tidak akan menyerahkan Sarita pada siapa pun. Ia tidak akan membiarkan pria lain menjadi pasangan dansa Sarita. Dia adalah pasangan dansa pertama Sarita dan yang terakhir!

Sejak ia tiba, gerombolan wanita terus mengekor. Wanita-wanita yang merepotkan itu telah menyulitkannya. Celoteh mereka yang tiada henti telah membuat pria-pria lain mempunyai kesempatan untuk mendekati Sarita! Andai bukan karena sopan santun, Halbert pasti telah meninggalkan mereka untuk memastikan tidak seorang pria pun mendekati Sarita.

Gunter terus menjauh dengan senyum lebar di wajah tampannya.

“Kau baik-baik saja, Sarita?” Halbert bertanya cemas pada gadis di tangannya, “Apakah kau terluka?” Ia tidak akan melepaskan Gunter kalau Sarita sampai terluka.

“Saya baik-baik saja,” jawab Sarita sambil tersenyum manis, “Terima kasih, Yang Mulia.”

Halbert dapat merasakan penolakan gadis itu. “Kau hanya punya satu pilihan kalau kau ingin menjauhi mereka,” Halbert memperingati. Hanya saat inilah ia mensyukuri ketidaksukaan Sarita pada para bangsawan mata keranjang… sepertinya.

Sarita pun menyadari kebenaran dalam kata-kata itu. Lebih mudah menghadapi satu penggoda wanita yang telah ia kenal daripada puluhan pria yang tidak ia kenal.

Halbert membuka sikunya untuk Sarita.

Sebuah bunga kebahagiaan bersemi dalam hati Sarita ketika ia meletakkan tangan di siku Halbert.

Wanita-wanita memasang mata iri pada Sarita. Halbert langsung mengabaikan mereka ketika Sarita muncul. Halbert langsung meninggalkan mereka ketika Sarita berjalan bersama seorang pria.

Tatapan mereka menyadarkan Sarita akan posisinya. Bunga kebahagiaan di hatinya layu bersamanya. Ia hanyalah satu di antara wanita-wanita Halbert.

Ia tidak akan pernah menempati tempat spesial di hati Halbert. Ia tidak akan menjadi wanita terpenting dalam hidup Halbert. Ia tidak akan pernah mendapatkan hati Halbert.

Halbert adalah seorang petualang. Sama seperti ayahnya, Halbert tidak akan pernah terpuaskan. Mereka adalah petualang sejati dan seorang petualang sejati tidak pernah berhenti berpetualang.

Tidak hanya Sarita yang memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Halbert juga tengah mengawasi mereka. Hanya saja ia bukan wanita-wanita cantik itu yang ia perhatikan. Ia tengah menatap tajam pria-pria yang tidak melepaskan mata dari Sarita.

Ia mempunyai alasan yang sama dengan Sarita untuk tidak menyukai pesta yang diadakan Duke of Vinchard ini. Halbert tidak suka Sarita menjadi pusat perhatian. Ia tidak suka pria-pria lain memperhatikan Sarita!

Halbert membawa Sarita ke keramaian para tamu. Ia tidak akan menyembunyikan Sarita ke tempat sepi. Ia akan menunjukkan pada setiap orang milik siapakah Sarita. Halbert tidak akan membuang kesempatan untuk melenyapkan kesempatan tiap pria.

“Sarita,” seseorang memanggil, “Pada akhirnya engkau bersama Pangeran.”

“Sudah kukatakan, Sarita pasti akan bersama Pangeran lagi,” komentar Chris tidak senang.

Sarita terperanjat. Duke Vinchard mengharapkan ia bisa mengenal pria lain namun ia terus menempel pada Pangeran, jenis pria yang tidak disukai Duke. Sarita menarik tangannya dari apitan Halbert.

Sebagai gantinya, Halbert meletakkan tangan di pinggang Sarita dan menariknya merapat.

Seketika Sarita sadar ia telah membuat kesalahan.

“Selamat siang, Duke,” sapa Halbert, “Saya berharap Anda tidak keberatan saya menemani cucu Anda sepanjang hari ini.”

Duke memperhatikan Halbert menarik Sarita merapat ke sisinya. Ia melihat sinar mata Halbert yang mempertegas kepemilikannya atas Sarita.

Duke tersenyum dan berkata, “Tidak. Saya tidak keberatan. Sama sekali tidak” Lalu ia berkata, “Tolong jaga Sarita, Yang Mulia.”

Sarita terperanjat.

“APA!?” protes Chris, “Bagaimana kau bisa menyerahkan Sarita pada pria mata keranjang ini!? Dia hanya mempermainkan Sarita. Aku lebih pantas untuk Sarita.”

Sarita juga sadar Halbert tidak serius. Ia yakin Duke Vinchard juga tahu. Pasti karena Halbert adalah seorang Pangeran maka Duke tidak mencegah. Andai Halbert hanya seorang bangsawan biasa, Duke pasti melakukan segala cara untuk mencegah Halbert mendekatinya. Pasti!

“Ikut aku, Chris. Aku akan mengenalkanmu pada temanku.” Duke mengabaikan protes itu.

“Tunggu! Apa kau tidak mendengarku, tua bangka!? Tunggu aku!” Chris bergegas mengikuti Duke.

Sarita tertawa geli melihat mereka. Akhir-akhir ini memperhatikan kedua pria itu adalah hobinya. Entah mengapa setiap melihat mereka, sebuah kehangatan muncul di dadanya.

“Aku benar-benar tidak menduga mereka bisa cocok seperti ini,” entah untuk keberapa kalinya Sarita berkomentar.

“Benar,” Halbert tidak suka mendengarnya. Ia tidak pernah suka ketika Sarita membicarakan pria lain. Tangannya beralih mengambil tangan Sarita dan menggenggamnya erat-erat.

Ketika melihat Halbert cemburu seperti ini, Sarita berharap kecemburuan itu dikarenakan cinta. Sayangnya, ketika Halbert menariknya mendekat, Sarita hanya merasakan harga diri.

Setiap pasang mata terus mengikuti Halbert yang membawa Sarita berkeliling sambil menyatakan kepemilikkannya atas Sarita. Di antara mata-mata yang penuh ingin tahu itu, hanya satu pasang mata yang dipenuhi amarah.

“Berani-beraninya anak itu mendekati Sarita di depan mataku!” Ratu Kathleen tidak henti-hentinya menggerutu, “Lihat saja. Aku pasti akan memisahkan mereka. Aku akan melakukan segala cara untuk mencegahnya mendekati Sarita.”

Raja Marshall hanya mendesah. “Sikapmu akhir-akhir ini sudah melewati batas.”

“Aku harus melakukan segala cara!” Ratu Kathleen bersikeras, “Aku tidak bisa berdiam diri melihat anak itu menyentuh Sarita!”

“Halbert tidak akan senang.”

“Aku tidak peduli! Selama ia menjauhi Sarita, aku tidak peduli.”

“Sikapmu itu hanya membuat orang-orang salah sangka. Aku khawatir Sarita sendiri berpikir kau membencinya.”

“Omong kosong!” sergah Ratu, “Sarita pasti tahu aku tidak bisa membencinya.”

Raja Marshall tidak berkomentar lebih jauh. Sejak Duke of Vinchard mengumumkan pesta ini, ia sudah tahu putranya akan berbuat seperti ini dan istrinya akan terus mengawasi mereka.

“Anak itu…,” tangan Ratu terkepal, “Berani-beraninya dia memeluk Sarita seperti itu. Marshall, cepat lakukan sesuatu!”

Raja Marshall melihat Halbert mengajak Sarita berdansa. Ia yakin saat ini tidak ada yang dapat membuat Halbert menjauhi Sarita. Raja tidak pernah melihat putranya seperti ini. Ia tidak pernah melihat Halbert begitu berlebihan dalam memperlakukan pasangannya. Ia yakin Halbert tidak ingin membiarkan seorang pun merebut Sarita darinya.

“Apa yang dilakukan anak itu!? Mengapa ia membiarkan Sarita seorang diri!? Apa dia tidak takut orang lain mendekati Sarita!?”

Raja melihat Halbert meninggalkan Sarita yang duduk di pinggir kolam ikan.

“Aku tidak bisa membiarkan ini!” Ratu memutuskan.

“Kathleen!” Raja terlambat mencegah Ratu mendekati Sarita.

Raja menyerah. Ia tidak tahu di mana istrinya menempatkan posisinya. Di suatu saat Kathleen memisahkan Halbert dari Sarita dan di saat lain ia memerintahkan Halbert menemani Sarita. Satu yang tidak diragukannya: cinta Kathleen pada Sarita.

“Ke mana anak bodoh itu pergi?”

Sarita terperanjat.

Wajah Ratu menampakkan jelas perasaannya. Ia seperti siap melumat Sarita.

Sarita memaklumi wajah yang tidak sedap dipandang itu.

“Kau benar-benar mempesona,” Ratu duduk di sisi Sarita. “Tidak heran setiap pria di tempat ini tidak dapat melepas mata darimu. Bahkan Halbert pun tidak sanggup meninggalkanmu.”

“Maafkan saya, Yang Mulia,” Sarita sama sekali lupa ketidaksukaan Ratu Kathleen padanya, “Saya berjanji tidak akan mendekati Pangeran lagi.”

“Khawatirnya engkau tidak dapat,” Ratu Kathleen mendesah, “Kulihat dari waktu ke waktu Halbert semakin tertarik padamu.” Dan Ratu tertawa lepas. “Tak diragukan lagi kau memang putri Sharon.”

Sarita terperangah. Bermimpi pun ia tidak pernah menduga ia akan melihat Ratu yang anggun ini akan tertawa lepas seperti ini. Tanpa ia sadari, ia menggumam,“Saya pikir Anda membenci saya.”

“Membencimu!?” Ratu Marshall terperanjat, “Bagaimana mungkin!? Engkau adalah putri sahabat baikku!”

“Mama?” Sarita terperanjat, “Anda mengenal Mama.”

“Tidak hanya mengenalnya. Ia sudah seperti saudara bagiku.” Untuk pertama kalinya, Ratu Marshall tersenyum lembut pada Sarita!

Sarita tidak pernah membayangkannya!

“Apakah tidak ada yang memberitahumu?” Ratu Marshall heran.

Sarita menggeleng.

“Kukira engkau sudah tahu.”

“Zielle tidak memberitahu saya.”

“Ia pasti melewatkannya,” komentar Ratu Sharon. “Namun…,” Ratu geram, “Ithnan tidak pernah mengungkit Sharon bisa dimengerti. Bahkan Norbert juga tidak pernah memberitahumu tentang Sharon!??”

Sarita semakin heran. “Anda juga mengenal Norbert?”

“Bagaimana mungkin aku tidak mengenal orang yang telah memperkenalkan Sharon pada cinta sejatinya?” tanya Ratu, “Pada pria yang telah menghancurkan hidup Sharon.”

Dari suaranya, Sarita dapat menangkap kebencian Ratu pada Duke Norbert dan ayahnya. “Apakah… Anda membenci Papa?” Sarita bertanya hati-hati.

“Ya,” dengan mantap Ratu Kathleen menjawab, “Dia telah menghancurkan hidup Sharon. Namun…,” tangan Ratu merangkum wajah Sarita dan dengan matanya yang lembut ia berkata, “Ia juga telah memberikan kebahagiaan pada Sharon. Dan ia juga memberi Sharon putri yang sangat manis.”

“Paduka Ratu…”

“Selama bertahun-tahun ini kau pasti melalui masa yang sulit.”

“Tidak, Yang Mulia. Papa telah menjaga saya dengan baik. Duke Norbert juga menyayangi saya.”

“Aku telah mendengarnya. Namun aku sama sekali tidak pernah menduga anak haram Duke of Cookelt yang terkenal itu adalah kau.”

Rasa bersalah meliputi Sarita. “Duchess Belle tidak menyukai saya.”

“Aku juga telah mendengarnya. Wanita itu yang pernah mengirim orang membunuhmu itu pasti terbaring kaku di ranjang sekarang. Ia pasti tidak pernah menyangka anak haram yang dibencinya adalah keturunan Duke of Vinchard yang terhormat dan bukan putri kandung Norbert. Earl of Mongar juga pasti kehabisan kata-kata.”

“Yang Mulia…,” bahkan koran-koran tidak mengetahui pembunuh kiriman Duchess Belle juga tentang Earl of Mongar. “Mengapa Anda bisa mengetahui banyak hal tentang saya?”

“Aku menyuruh Savanah melayanimu bukan hanya untuk mengawasimu namun juga untuk mengenalmu lebih dalam.”

Pantas saja Savanah suka mengorek masa lalunya. Pantas saja Savanah selalu tertarik mendengar cerita masa lalunya.

Ratu tersenyum penuh kasih sayang. “Bila kau mempunyai kesulitan atau membutuhkan seseorang untuk berbicara, kau bisa menemuiku.”

Sarita menatap lekat-lekat Ratu.

“Kau tidak mempercayaiku juga tidak bisa disalahkan. Siapa suruh aku tidak pernah menghiraukanmu.”

“Ti-tidak. Saya… saya…,” Ratu menggenggam tangan Sarita.

“Aku ingin kau tahu aku sudah mencintaimu sejak melihatmu. Engkau begitu mirip dengan ibumu hingga aku sering salah mengenal. Berulang kali aku ingin berbicara denganmu. Berulang kali aku ingin memelukmu.” Dan Ratu melakukan kata-katanya.

Sarita terpaku. Sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan menghangatkan tubuhnya.

“Engkau bisa menganggapku sebagai ibu bila kau mau.” Lagi-lagi Ratu memandangnya penuh kasih sayang.

“Ibu…,” gumam Sarita. Inikah perasaan dipeluk seorang ibu?

“Nah, Sarita. Selamat menikmati pestamu.” Ratu melepaskan Sarita dan menjauhi gadis yang masih mematung itu.

“Apa yang dibicarakan Mama denganmu?”

Suara tegas itu membuat Sarita terperanjat.

“Apa yang dibicarakan Mama?” suara Halbert menuntut jawaban.

“Ti-tidak ada,” jawab Sarita. Bagaimana mungkin ia akan memberitahu Halbert isi pembicarannya dengan sang Ratu, “Beliau tidak membicarakan apapun dengan saya.”

Halbert memperhatikan Sarita dengan tajam. Ia tidak percaya ibunya mendekati Sarita hanya untuk berbasa-basi. “Katakan padaku kalau ia mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak senang,” Halbert memutuskan untuk melepaskan Sarita lalu ia menyodorkan gelas minuman, “Ini minumanmu.”

“Terima kasih,” tanpa ragu-ragu Sarita menghabiskan minumannya.

Halbert terperangah.

“Pangeran,” tanya Sarita kemudian, “Minuman apa ini? Minuman ini sangat sedap.”

“Itu hanya anggur merah.”

Sarita merasa tubuhnya panas seperti terbakar dan kepalanya pening. Pandangan matanya mengabur dan ia merasa tenaganya hilang.

“Kau baik-baik saja?” Halbert mulai khawatir melihat Sarita. “Sarita,” ia mengulurkan tangan.

Sarita jatuh ke tangan Halbert.

“SARITA!” Gelas di tangan Sarita jatuh dan hancur berkeping-keping.

Sarita merasakan mual di perutnya. Pening di kepalanya sama sekali tidak membantunya merasa lebih baik.

Tiba-tiba seseorang menciumnya. Sebelum Sarita menyadari apa yang terjadi sebuah cairan mengalir dari mulut pria itu ke dalam tenggorokannya.

“Minum!” perintah Halbert.

Sarita tidak menyukai rasa minuman itu.

“Habiskan!” sekarang Halbert menyodorkan gelas ke mulutnya.

Sarita menuruti perintah itu.

“Kau benar-benar merepotkan,” Halbert memeluknya erat-erat. “Kau membuatku kaget. Kupikir aku sudah meracunimu. Mengapa tidak kau katakan kalau kau tidak bisa minum minuman keras!?”

Sepasang mata yang cemas itu membuat Sarita merasa bersalah.

“Berbaringlah. Kau membutuhkan istirahat,” Halbert kembali membaringkan Sarita di atas pahanya.

Sarita melihat rimbunan hijau daun pohon. Matanya terpaku pada sinar matahari yang berusaha menerobos ketebalan dedaunan.

Pikiran Sarita mulai berputar. Ia ingat ia duduk di pinggir kolam ikan. Kemudian Ratu Kathleen mendekatinya dan Halbert memberinya minuman yang membuat tubuhnya serasa terbakar. Sekarang… Sarita bingung mengapa ia bisa berada di bawah pohon. Ia tidak ingat ada pohon di sekitar kolam ikan. Dan mengapa…

Sarita berdiri.

“Apa yang kaulakukan!?” Halbert terperanjat. “Berbaringlah!” Halbert menahan Sarita.

Wajah Sarita merah padam. Mengapa ia bisa berbaring di atas rumput dengan kepalanya di paha Pangeran Halbert!?

“Apa kau pusing lagi!?” Halbert menundukkan kepala menatap Sarita dengan cemas. Tangannya memegang dahi Sarita. “Mana yang sakit?” ia memijit lembut kening Sarita. “Apa kau sudah merasa lebih baik?”

“Saya tidak apa-apa,” Sarita menepis tangan Halbert.
Mengapa gadis ini selalu begini? Mengapa gadis ini tidak pernah menerimanya? Bahkan di saat ia ingin memperhatikannya?

Sarita memaksakan dirinya untuk duduk. Seketika ia sadar mereka masih berada di halaman Quadville tempat pesta diselenggarakan.

“Kau sudah merasa lebih baik, Sarita?”

Duke of Vinchard mendekat dengan cemas.

“K-kakek!” Sarita terperanjat. Seketika ia sadar ia pasti telah membuat keributan. “Maafkan aku, kakek. Aku pasti telah mempermalukan kakek.” Bahkan Zielle pasti memarahinya malam ini.

Duke Vinchard hanya tertawa. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Pangeran telah mengatasinya dengan baik. Sebelum banyak orang mengetahui, ia telah membawamu ke tempat yang sepi ini.”

“Terima kasih, Pangeran,” Sarita tersipu-sipu.

“Sekarang aku mengerti mengapa wajahmu selalu memerah tiap kali sesudah kau menghabiskan makan malammu,” gumam Duke Vinchard, “Aku akan memerintahkan koki menyiapkan menu yang tidak mengandung anggur untukmu.”

“Sarita, kau sudah sadar?” Chris gembira, “Zielle membuat minuman khusus untukmu. Katanya kau akan merasa lebih baik setelah menghabiskannya.” Chris mengulurkan segelas minuman pada Sarita.

“Terima kasih,” Sarita mengulurkan tangan.

Halbert mencengkeram tangan Sarita.

Sarita terperanjat.

“Berikan padaku,” Halbert merampas gelas itu dari tangan Chris.

Chris marah.

“Ikut aku,” Duke Vinchard menarik Chris sebelum pemuda itu melepaskan amarahnya. “Aku harus segera menyuruh koki menyiapkan makanan khusus untuk Sarita.”

Kali ini Halbert tidak sedang bermain wanita. Ia benar-benar jatuh cinta pada Sarita. Sikapnya yang penuh perlindungan itu sudah merupakan bukti yang cukup. Duke Vinchard tidak pernah melihat sang Pangeran yang suka bermain wanita itu bisa menjadi seorang pencemburu seperti ini.

“Kau masih tidak percaya padaku, Kathleen?” tanya Raja. “Kali ini Halbert serius. Ia tidak sedang bermain-main.”

Ratu Kathleen kesal. Ia tidak punya pilihan lain selain mengakui kenyataan itu.

Ketika melihat kepanikan Halbert ketika Sarita tiba-tiba pingsan, ia sadar putranya tidak panik karena ia adalah seorang Pangeran namun karena ia mencemaskan Sarita. Sikapnya yang penuh perlindungan itu tidak pernah diberikannya pada wanita kencannya yang lain. Yang terutama, ia tidak pernah melihat Halbert, sang penggoda wanita, bisa menjadi seorang pencemburu. Tidak sekalipun ia membayangkan Halbert bisa begitu murka hanya karena seorang pria mendekati pasangannya. Ia tidak pernah mengharapkan Halbert bisa memandang tiap pria dengan mata yang berkata, ‘Gadis ini adalah milikku. Jangan berharap seorangpun dari kalian bisa mendekatinya!’

“Dia memang putri Sharon,” Ratu Kathleen tersenyum bangga. “Tidak. Ia lebih mengagumkan dari Sharon. Ia melampaui Sharon! Ia tidak hanya membuat para pria patah hati tapi juga para wanita.”

Ratu Kathleen tertawa bangga.

“Siapa sebenarnya anakmu?” Raja Marshall menyerah.


Continue reading...

Tuesday, June 2, 2009

Kisah Cinta-Chapter 17

“Chris berada di Quadville!?” suara Halbert melengking tinggi. “Mengapa itu bisa terjadi? Mengapa Duke Vinchard membiarkannya di sana!?” ia langsung meletakkan peralatan makannya dan menyerbu keluar.

“Mau ke mana kau!?” Ratu Kathleen berseru. “Kau tidak akan ke mana-mana hari ini!”

Namun Halbert sudah menghilang dari pandangan.

“Anak itu,” geram Ratu, “Aku akan mengurungnya. Lihat saja!”

“Sudahlah, Kathleen,” Raja Marshall berusaha meredakan amarah istrinya, “Kau tidak perlu mengkhawatirkan Halbert. Ia tidak akan.”

“Apa yang kautahu!?” bentak Ratu, “Apa kaupikir ia akan melepaskan tangannya dari Sarita!? Aku akan mencincangnya kalau ia sampai berani mendekati Sarita. Lihat saja. Aku pasti akan membunuhnya!”

Raja Marshall mendesah panjang. Istrinya lepas kendali bila menyangkut Sarita.

“Apa yang kau keluhkan!?” Ratu langsung memeloti Raja, “Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu selain mengeluh!?”

Raja tidak tahu apa yang bisa ia lakukan. Saat ini ia hanya tahu ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan putranya mendekati Sarita.

Ketika Halbert pulang bersama Sarita, ia melihat seorang pemuda yang ingin membantu seorang gadis muda yang kesepian. Sekarang ia melihat seorang pemuda yang tergila-gila pada Sarita.

Tidak diragukan Sarita adalah putri Sharon Elwood, gadis yang telah mematahkan hati banyak pria dan menggemparkan Helsnivia.


-----0-----



“Apa hanya itu yang kau miliki, anak muda!?” bentak Duke Ephraim.

“Sial,” geram Chris.

Duke tertawa melihat Chris kelelahan. “Kau masih terlalu muda seratus tahun untuk dapat mengalahkanku.”

Chris marah dibuatnya. “Aku tidak akan kalah dari orang tua sepertimu!” ia menerjang.

Lagi-lagi dengan mudahnya Duke menghindari serangan Chris.

“Benar-benar tidak kusangka,” komentar Gunter.

Sarita tersenyum. Ia pun tidak menyangka kedua orang itu akan dengan cepat menjadi akrab seperti ini. Kemarin siang Duke Ephraim tidak melewatkan sedetik pun untuk menceramahi Chris. Chris yang dimanja oleh almarhum Duke Norbert tidak terima perlakuan itu. Ia terus memberontak namun Duke Ephraim bukanlah lawannya. Duke Ephraim masih menceramahi Chris ketika Sarita memutuskan untuk tidur.

Sarita menduga Chris telah memanfaatkan malam yang sepi untuk kabur. Karena itu pagi ini Sarita benar-benar terkejut melihat kemunculan Chris di Ruang Makan.

Chris ingin melangsungkan serangannya kepada Sarita namun mata tajam Duke Ephraim terus mengawasinya sehingga ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengusik Sarita.

Di bawah mata awas Duke, Chris mengerjakan apa yang sudah menjadi tugasnya sebagai Duke of Cookelt. Di bawah pengawasan Duke Ephraim pula Chris belajar tata karma yang sesuai untuk seorang Duke. Dan di bawah kekerasan watak Duke, Chris terperangkap dalam pelajaran yang lebih ketat dari yang pernah ia terima di Trottanilla.

Sarita sempat heran melihat Chris yang tiba-tiba berubah menjadi penurut. Sarita tahu bukan kekerasan kakeknya yang membuat Chris tidak bisa memberontak. Sesuatu dalam diri kakeknya, yang tidak pernah dilihatnya dari almarhum Duke Norbert maupun guru-guru privatnyalah yang membuatnya bertahan dalam pelajaran yang ketat ini.

Sarita baru menyadari apa yang membuat Chris tertarik pada Duke ketika mereka mulai bermain pedang. Duke Ephraim memang orang yang keras. Ia tidak suka melihat anak muda yang lembek namun ia juga mencintai anak muda. Melihat Chris yang sudah bosan oleh pekerjaan yang tidak biasa ia lakukan, Duke Ephraim memutuskan untuk melatih permainan pedang Chris. Saat itulah Sarita melihat sinar ceria di mata Chris. Sudah lama ia tidak melihat sinar ceria itu di mata Chris. Hanya ketika Chris masih kecil ia sering tertawa gembira seperti ini. Chris menemukan kasih sayang yang tidak ia dapatkan dari orang tuanya dalam diri Duke of Vinchard, kakeknya. Almarhum Duke Norbert sibuk bermain wanita. Duchess Belle tidak suka menghabiskan waktu di dalam rumah. Dorothy disibukkan oleh jadwal kencannya yang padat. Dan ia…

Ia mencintai Sarita seperti adiknya sendiri namun Duchess Belle telah mempengaruhi Chris sehingga Chris tidak menerima kehadirannya. Setiap guru privat yang diundang keluarga Riddick hanya tahu mereka akan mendapat bayaran bila mereka datang tiap hari.

Walaupun Duke bersikap keras kepadanya, Chris dapat melihat kepedulian dan kasih sayang Duke padanya. Tidak. Dalam sikap kerasnya itulah Duke mewujudkan kasih sayangnya. Karena Duke peduli pada Chris, ia tidak ingin Chris menjadi pemuda berandalan. Karena Duke mencintainya, Duke menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk mendidik Chris menjadi seorang Duke of Cookelt yang baik.

“Kakek menyukai Chris. Chris juga menyukai kakek.” Sarita merasakan kehangatan tumbuh dalam dirinya melihat dua orang kesayangannya itu.

Seorang pelayan langsung menuang teh ke dalam gelas kosong Sarita. Dari teras, dapat melihat Chris yang bergumul dengan ketangguhan Duke Ephraim. Ketika mendengar mereka akan bermain pedang, Sarita memutuskan untuk menonton.

Zielle langsung menanggapi keinginannya dengan mempersiapkan meja kursi dan makanan ringan beserta teh dan para pelayan yang selalu siap sedia.

Gunter menatap gadis itu. “Sekarang kau percaya padaku, bukan?” ia tersenyum penuh arti, “Duke mencintaimu.”

Sarita mengangguk. Sejak kemarin hingga hari ini Duke tidak henti-hentinya bertanya apakah ia memerlukan sesuatu, apakah ada yang ia inginkan. Duke Ephraim berencana mengajaknya berjalan-jalan siang ini namun Chris tidak bisa ia tinggalkan. Sarita memaklumi keputusan Duke. Ia tidak menuntut apapun. Ia telah mendapatkan lebih dari yang ia inginkan dari sebuah keluarga.

“Apakah engkau mempunyai keperluan dengan kakek?” Sarita ingat ia belum menanyakan tujuan kedatangan Gunter sejak pria itu tiba beberapa saat lalu.

“Tidak ada,” jawab Gunter, “Aku datang karena mencemaskanmu.”

“Mencemaskanku?” Sarita bertanya-tanya.

Gunter tersenyum misterius. “Rupanya tidak hanya aku yang mencemaskanmu.”

Sarita semakin kebingungan dibuatnya.

“Aku pulang dulu,” Gunter berdiri, “Sampaikan salamku pada Duke dan adik angkatmu.”

Saat matanya mengikuti kepergian Gunter itulah Sarita melihat Halbert mendekat dengan wajah panik.

“Sela,” Sarita kehilangan kata-katanya ketika Halbert menariknya tiba-tiba dan memeluknya erat-erat.

“Untunglah,” katanya lega.

“P-Pangeran…,” Sarita menyadari para pelayannya melihatnya dengan penuh ingin tahu. “Apa yang Anda lakukan?”

“Apakah kau baik-baik saja? Apa Chris melukaimu? Apa Chris bertidak kurang ajar padamu lagi?” Halbert memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan mendesak.

Akhirnya Sarita sadar arti senyuman Gunter. “Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan, Pangeran,” Sarita menenangkan pemuda itu, “Kakek menghentikan Chris sebelum ia sempat bertindak kurang ajar pada saya. Kakek telah memastikan Chris tidak akan mengganggu saya lagi. Lihatlah mereka.”

Halbert mengikuti pandangan Sarita. Ia tidak dapat menanggapi melihat Duke lawan main Duke Ephraim.

“Kakek memutuskan untuk menahan Chris di sini.”

“Apa katamu!?” Halbert terpekik panik.

“Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan. Kakek tidak akan membiarkan Chris mengganggu saya,” Sarita meyakinkan pemuda itu, “Kakek hanya ingin mendidik Chris menjadi seorang Duke yang baik. Ia tidak ingin Chris menjadi pemuda yang tidak berguna.”

Halbert melihat Sarita kemudian pada Duke dan Chris yang tidak menyadari kedatangannya.

“Bersediakah Anda bergabung bersama saya, Pangeran?” Sarita bertanya sopan.

Halbert melihat kursi kosong di sisi Sarita dan langsung duduk.

Pelayan langsung mempersiapkan cangkir kosong untuk Halbert dan pelayan yang lain menuangkan teh untuknya.

“Kulihat engkau sudah berubah.” Halbert melihat wajah gadis itu yang berseri-seri.

Sarita tersenyum. “Saya sudah menjadi pengangguran kelas atas,” Sarita mengakui. “Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menghabiskan waktu untuk melamun.” Sekarang ia sudah menjadi pengangguran kelas atas. Dengan ajaran ketat Duke Ephraim, semua tugasnya beralih pada Chris. Sarita tentu saja tidak menyukainya namun ia tahu cepat atau lambat Chris harus mengerjakan sendiri pekerjaan ini.

Zielle adalah orang yang paling bersuka cita oleh keputusan Duke. Pekerjaan itu adalah pekerjaan pria, katanya.

Belum sehari Sarita melewati saat-saat yang selalu diimpikan banyak orang namun ia sudah bosan. Ia tidak terbiasa duduk manis melewati waktu luang dengan para pelayan yang selalu siap melayaninya.

“Mengapa engkau tidak memberitahuku?”

Sarita terperanjat. Memberitahu apa?

“Aku bisa mengajakmu berjalan-jalan.”

Sarita tersedak.

“Tuan Puteri,” para pelayan langsung mendekatinya dengan cemas.

“Kau baik-baik saja?” Halbert langsung berlutut di depannya dengan panik.

“Tidak. Aku baik-baik saja,” Sarita berusaha meredakan batuknya.

Halbert mengambil cangkir Sarita dan menyodorkannya ke mulut Sarita. “Minumlah” perintahnya.

“Terima kasih,” Sarita menerimanya.

Sesaat kemudian kepanikan itu mereda. Halbert duduk kembali di kursinya dengan wajah cemberut dan para pelayan kembali ke posisi mereka masing-masing.

“Apakah pergi denganku demikian menyebalkan?” tanya Halbert.

“T-tidak,” jawab Sarita. Tentu saja itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Sarita dapat membayangkan Halbert tidak akan membuatnya bosan. Halbert pasti tahu bagaimana menyenangkan hatinya karena…

‘Karena ia sangat berpengalaman dengan wanita,’ Sarita mengakui dengan sedih. Sarita meletakkan cangkirnya dengan sedih. Ia dapat terus mengingkari perasaannya namun ada kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataan bahwa Halbert sangat berpengalaman dalam menggaet wanita dan mempermainkan wanita.

Sarita tidak dapat membohonginya. Halbert tahu gadis ini selalu seperti ini. Sarita tidak akan pernah memberinya kesempatan karena ia tidak tertarik padanya.

“Tolong siapkan jatah untuk mereka,” Sarita berkata pada pelayan yang berbaris di belakangnya.

“Baik, Tuan Puteri.”

Halbert melihat baik Duke Ephraim maupun Chris sudah kelelahan. “Tampaknya mereka sudah akrab.”

“Saya juga tidak menyangka mereka bisa cocok ,” Sarita mengakui. “Norbert juga pasti tidak menyangka kakek bisa menerima putranya. Tampaknya kakek sudah memaafkan Norbert dan Papa.”

“Norbert dan Papa?” kali ini Halbert mendengarnya dengan jelas.

“Norbert adalah orang yang mengenalkan Papa pada Mama,” Sarita memberitahu, “Karena itu kakek juga menyalahkan Norbert.”

“Tunggu dulu, Sarita,” Halbert menghentikan gadis itu untuk menjernihkan ganjalan di hatinya, “Apa maksudmu dengan Norbert dan Papa? Bukankah Norbert adalah ayahmu?”

“Benar, Norbert adalah ayah saya,” Sarita membuat Halbert semakin bingung, “Ia adalah ayah angkat saya.”

“Ayah angkat?” Halbert mengulangi.

“Benar,” Sarita membenarkan, “Semenjak Papa meninggal, Norbert menjadi ayah angkat saya.”

“Kau… bukan putri Duke of Cookelt?” Halbert mengulangi lagi.

“Ya,” jawab Sarita singkat.

“Mengapa kau tidak pernah memberitahuku?” Halbert menuntut.

“Anda tidak pernah bertanya pada saya.”

Tiba-tiba saja Halbert merasa ia sungguh tidak berguna. Berminggu-minggu lamanya ia pusing memikirkan status Sarita. Berhari-hari lamanya ia tersiksa oleh status Sarita. Dan gadis ini mendiam keadaan ini! Sepertinya Sarita sengaja melihatnya tersiksa.

Inikah cara Sarita menolaknya?

Halbert benar-benar tidak tahu ia harus bereaksi apa. Tertawa? Marah? Senang? Sedih?

“Sejak awal saya tidak pernah menyebut saya adalah bagian dari keluarga Riddick,” Sarita mengingatkan.

Ya, Halbert ingat gadis itu berkata, “Perkenalkan nama saya adalah Sarita Yvonne Lloyd,” di saat pertemuan pertama mereka. Tapi, siapa yang tidak berpikir Sarita adalah putri kandung Duke of Cookelt ketika melihat Duke menggandeng gadis itu penuh cinta sementara putri kandungnya berada di tempat yang sama? Siapa yang mau merepotkan diri berpikir mengapa Sarita tidak menyebut nama keluarga Riddick?

Halbert benar-benar tidak tahu ia harus bagaimana menghadapi gadis ini.

“Sarita!” Chris berlari mendekat.

Halbert langsung berdiri di depan gadis itu.

“Rupanya Anda datang, Pangeran,” sapa Duke.

“Duduklah, Kakek,” sela Sarita, “Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan teh untuk kalian.”

Duke duduk di depan Sarita dan Chris di sisinya.

Halbert menarik kursinya mendekati Sarita dan memutuskan untuk tidak melepaskan Chris dari matanya.

“Maaf saya tidak menyadari kedatangan Anda,” kata Duke Ephraim dan ia bertanya, “Kapan Anda datang?

“Aku baru saja datang,” jawab Halbert, “Aku lihat kalian begitu larut dalam permainan kalian sehingga aku memutuskan untuk menonton.”

Duke Ephraim tertawa. “Saya lihat Anda hanya ingin menemani Sarita.”

Sarita dibuat kikuk oleh reaksi Duke.

“Sarita, kakek berkata besok kita akan berjalan-jalan ke Travlienne,” Chris memberitahu dengan penuh semangat.

“Benarkah itu?”

“Tentu saja,” Duke membenarkan, “Aku tidak akan menarik janjiku selama Chris tidak membantahku seperti pagi ini.”

“Kau dengar itu, Chris?”

Halbert tidak menyukai perhatian Sarita pada Chris.

Duke berpaling pada Halbert, “Anda bisa ikut bila Anda berkenan, Yang Mulia.”

“Dengan senang hati,” Halbert langsung menanggapi. Bagaimana mungkin ia membiarkan Sarita pergi bersama Chris? Bermimpi pun Halbert tidak akan mengijinkan!

“Sarita, Sarita,” Chris menarik perhatian Sarita, “Kakek berkata minggu depan ia akan mengadakan pesta untuk memperkenalkanmu pada kalangan bangsawan.”

“Pesta?” Sarita melihat kakeknya.

“Aku akan memperkenalkanmu pada semua orang,” Duke menegaskan dengan gembira.

Sarita membelalak. “Ka… kakek,” ia ragu-ragu, “Bisakah Kakek memikirkannya ulang?”

“Apa yang perlu dipikirkan?” tanya Duke, “Aku akan mengundang para bangsawan juga sahabat-sahabatku. Aku juga perlu memesan baju pesta untukmu. Menu makanan juga harus segera disiapkan.”

“Kakek,” Sarita memotong sebelum Duke larut lebih jauh lagi, “Aku tidak menginginkan pesta itu.”

“Tidak menginginkan?” Duke terkejut, “Apa maksudmu!?” suaranya meninggi.

Sarita tidak dapat mendapatkan jawaban yang tepat. Apa pun jawabannya, Duke yang tidak suka dibantah ini tidak akan menyukainya. “Aku tidak memerlukan pesta apapun,” Sarita menemukan jawaban yang cukup meyakinkan, “Kakek sudah cukup.”

“Sudah kukatakan,” Chris turun suara, “Sarita tidak akan mau. Papa juga tidak dapat menemukan cara untuk tidak dapat membuat Sarita muncul dalam satu pesta pun selain.”

“Pesta Earl of Striktar,” sahut Halbert sambil menatap Sarita lekat-lekat.

“Pantas saja,” gumam Duke, “Aku tidak pernah mendengar keberadaanmu di Trottanilla.”

Halbert juga yakin bila Sarita sering muncul dalam kalangan bangsawan, Duke of Vinchard akan dengan cepat menemukan cucunya.

Sarita menghindari sepasang mata Halbert yang membakar wajahnya itu.

“Sarita tidak tertarik pada pertemuan-pertemuan seperti itu,” Chris memberitakan apa yang ia ketahui. “Ia lebih suka mengurung diri di rumah membantu Papa.”

Ini adalah nilai pertama lain yang Halbert temui dari Sarita.

“Aku tidak dapat menerima alasanmu itu,” Duke memutuskan, “Pesta akan tetap berlangsung dengan kehadiranmu.”

“Apakah Anda mengijinkan saya menjadi pasangan dansa Anda, Lady Sarita?”

Sarita terkejut mendengar pertanyaan sopan Chris. Belum sehari Duke mendidik Chris namun pemuda itu sudah menjadi sosok yang tidak ia kenali.

“Tentu saja tidak!” Duke Ephraim menjawab untuk Sarita, “Kau tidak pantas untuk Sarita.”

Halbert tersenyum puas mendengarnya.

“Dalam pesta itu pasti ada banyak pemuda yang lebih cocok untuk Sarita daripada kau, anak muda.”

“Apa katamu, Kakek bangka!?” Chris berdiri dengan kesal.

“Begitukah caramu berbicara pada orang tua!?” Duke langsung naik pitam.

Sarita tertawa geli. Rupanya Chris hanya ingin mendapatkan persetujuan dari Duke.

Mereka melihat Sarita dengan heran.

“M-ma-maaf,” Sarita berusaha keras meredakan tawanya, “Maaf. Aku tidak berniat buruk.” Dan ia menatap lembut pada Chris. “Aku tidak sabar menanti pengakuan kakek padamu, Chris. Norbert juga pasti ingin segera melihatmu menjadi Duke yang gagah.”

Halbert sama sekali tidak menyukainya! Ia tidak senang Sarita bersikap begitu lembut pada Chris. Ia tidak suka Sarita menaruh harapan pada Chris! Ia tidak merestui!

Halbert sudah tidak peduli lagi. Sebelum ia memastikan tidak ada pria yang mendekati Sarita, ia harus menjauhkan Chris dari Sarita. Maka dari itu, keesokan harinya, tanpa mempedulikan protes ibunya, Halbert melesat ke Quadville sesuai jadwal perjanjian mereka.

“Anda benar-benar tepat waktu,” komentar Sarita menyambut kedatangan sang Pangeran yang sudah memutuskan akan menjadi pengawal pribadi Sarita. “Duduklah. Saya yakin sebentar lagi Chris akan siap. Ia ketiduran pagi ini. Ia sangat menantikan perjalanan hari ini sehingga semalam ia tidak tidur. Kakek sudah memperingatinya untuk tidur awal namun rupanya Chris terlalu gembira untuk memejamkan mata.”

Chris lagi! Chris lagi! Halbert memastikan dalam waktu singkat Sarita akan berhenti menyebut nama pemuda ingusan itu.

Halbert memperhatikan Sarita. Tak peduli pakaian apa yang dikenakannya, gadis ini selalu tampak memukau. Sarita tidak perlu dandanan yang mencolok untuk mendapatkan perhatiannya. Sarita tidak perlu pakaian mewah untuk membuatnya bersinar. Dalam hatinya Sarita adalah gadis yang paling memukau dan bersinar. Semakin Halbert memperhatikan Sarita, semakin ia sadar ia tidak akan menemukan Sarita kedua.

“Kau benar-benar tidak berguna, anak muda,” gerutu Duke terdengar mendekat, “Aku tidak tahu bagaimana Norbert mendidikmu.”

“Norbert mengajariku menggaet wanita,” jawab Chris bangga.

“Memalukan!” sahut Duke. “Benar-benar memalukan! Generasi saat ini benar-benar mencoreng muka terhormat para bangsawan. Di mana harga diri dan kebanggaan para bangsawan saat ini!? Tiap bangsawan hanya tahu berfoya-foya dan bermain wanita. Benar-benar memalukan!”

Teguran Duke itu tepat mengenai Halbert.

“Sudahlah, kakek,” Sarita berusaha meredakan emosi Duke, “Kita berada di sini bukan untuk mendengar ceramah kakek. Kita akan pergi bersenang-senang.” Sarita menggandeng tangan Duke.

“Dengar, Sarita, jangan terperangkap oleh jerat para pemuda jaman sekarang,” Duke memperingati Sarita dengan serius, “Carilah pemuda terhormat yang setia.”

“Aku akan mencari pemuda seperti kakek,” Sarita tersenyum sambil menggandeng Duke menuju kereta.

Duke tertawa. “Aku khawatir kau akan menemukan pria tua.”

Halbert terpaku melihat kepergian mereka. Ia tahu mendapatkan Sarita tidak semudah menggaet wanita-wanita lain. Namun baru saat ini ia sadar mendapatkan cinta Sarita bukanlah satu-satunya kesulitan yang harus ia hadapi.


Continue reading...